Jumat, 12 April 2013

CERITA MALAM BERCINTA DENGAN GADIS WARTEG




Siang panas di kota T******g membuat aku berkeringat. Belum habis jam kerja, kuputuskan saja buat pulang ke kamar kost. Sambil menyeka keringat, kudorong masuk motor inventaris kantor ke teras kamar kost. Perut terasa perih setelah sedari pagi berkeliling meninjau proyek pemerintah yg sedang dikerjakan oleh para pemborong lokal. Maklum, di kota ini pemborong lokal dikenal sedikit nakal jika tidak diawasi. 

Dan tugasku mengawasi agar dana pemerintah digunakan dengan benar serta kualitas pekerjaan para pemborong sesuai dengan standar pemerintah. Setelah ganti baju dengan kaus oblong, aku menuju warteg langganan di seberang jalan. Sambil memesan makanan kuperhatikan seorang pegawai baru yg berbodi lumayan montok dgn payudara yg besar. Kulitnya putih dan betis dan lengannya ditumbuhi bulu halus. "Ada yg baru Mbak Ning?" aku berbasa basi dgn pemilik warteg. "iya, keponakan dari Brebes, baru datang semalam". "Namanya siapa mbak?" tanyaku sambil pandanganku tak lepas dari tubuhnya yg ternyata membuatku sedikit bergairah. "Murni Mas" jawabnya singkat. Memang bener - bener murni pikirku. Sambil menikmati makan siang, pikiranku melayang memikirkan Murni. Imajinasiku melayang membayangkan aku sedang bergumul dgnnya dikasur. "Mau minum apa mas?" Pertanyaan Murni membuyarkan mimpiku. "Es Tawar aja" jawabku singkat.

Pertemuan dgn Murni membuat aku semakin bersemangat pulang kerja. Singkatnya, karena kedekatanku dgn Mbak Ning sang pemilik warteg, aku berhasil dekat dgn Murni. Sampai satu hari aku nekat menembaknya saat warteg sedang sepi di malam selasa. "Murni, udah punya pacar blm dikampung?" tanyaku membuka pembicaraan. "Belum mas, emang kenapa?". "Gak, nanya aja. Masa gadis secantik Murni ga punya pacar? bo'ong aja nih!" candaku "Suer mas, murni blm punya pacar. Dulu pernah pacaran. Tapi skrg dah putus". "Lho kok putus? Mangnya knp?" tanyaku "Cowo aku dulu doyan selingkuh. 

Baru pcaran sehari dah pcaran lagi sama cewe lain. Dah gitu dia doyan mabok. Kalo udah mabok rese. Suka remes-remes dada aku. Kan aku malu mas". Wah dah berani curhat nih, pikirku. "Trus, klo skrg ada cowo yg mau sama murni, Murni mau ga?" tanyaku. "Emang ada cowo yg mau sama pelayan warteg kaya aku mas?" tanyanya. "ada" jawabku singkat "siapa mas?" "Aku". "Ah, mas becanda. Mas kan Pegawe Negri. Ga mungkin mau sama aku. paling juga sebulan aku udah diputusin. atau aku ga dikawin. Makasih mas. Aku ga mau sakit keduakalinya!" jawabnya sambil berlalu. Aku pun hanya tertegun. Menikmati kegagalan malam ini.

Tapi aku tidak putus asa. Lewat Mbak Ning, kuutarakan perasaan hatiku kepada keponakannya. Mbak Ning pun setuju membantu akau. Katanya Murni memang udah pantas menikah dan ia ingin ada keluarganya yg bisa mengangkat derajat keluarga Murni. Sebab dikampungnya, PNS sangat dihormati dan disegani. 

Singkatnya, setelah berjuang selama kurang lebih dua bulan, kudapatkan cinta Murni pada saat acara panggung hibura 17 Agustus di halaman kecamatan. Sambil menikmati musik dangdut alakadarnya, kucoba lagi menyatakan cintaku pada Murni. "Murni, mas benar benar suka sama kamu. Benar-benar cinta dan tidak ada sedikitpun niat untuk melepaskan Murni. Mungkin saya lebih baik buta daripada lihat Murni dengan orang lain" kataku menggombal ria. "Mas, Murni dah tau dari Bu LikNing. Kalo emang mas benr serius sama Murni. Murni mau nerima asal dengan syarat mas.". Hnnnnaaaaaaah, akhirnya ........ "Syarat apa Murni? jangankan satu, seribu syarat akan mas penuhi asal Murni mau menerima cinta Mas." gombal maning. "Cuma satu kok mas. Mas jangan pernah menyakiti hati Murni". "Murni, aku sudah bilang, gak akan pernah menyakiti kamu. Jadi kamu mau nerima mas?" tanyaku. "Mas terima ga syarat dari murni?" dia malah balik tanya. "Aku terima semua syarat yg kamu berikan. Jadi kamu mau jadi pacar mas?" aku medesaknya. "Jangankan pacar mas, aku malah sudah siap jadi istri kamu!" Mendadak suara musik dangsut tak terdengar. Yang terdengar hanya suara jantungku yg berdegup keras, saking senangnya perjuangan aku tak sia-sia. Kuraih bahu Murni dan ia tdk menolak. kupeluk dia dari samping dan kukecup rambutnya. dan dia melingkarkan tangannya dipinggangku. Resmilah kami jadi sepasang kekasih.

Sejak aku berpacaran dengan Murni, aku merasa ada perlakuan lain dari Mbak Ning. Ia mulai sering menyuruh Murni meninggalkan pekerjaannya jika melihat motorku datang. Dan biasanya Murni menghampiri aku dan cium tangan seperti layaknya seorang istri kpd suaminya. Seperti sore itu, aku pulang kantor tiba-tiba Mbak Ning menghampiriku. "Mas Adi, Mbak mau ke Depok. Ada saudara yg hajatan. Mungkin Mbak nginep beberapa hari. tlg titip anak-anak di warung ya, soalnya ga ada orang lakinya. Suami Mbak juga ikut". "Oke Mbak" jawabku. "jangankan beberapa hari, setahun juga aku mau!" jawabku sambil tersenyum. "Ya iyalah, kan ada Murni! Makasih ya mas" Mbak Murni sambil berlalu. 

Malam itu Warteg tutup lebih awal. Sehingga aku punya banyak waktu ngobrol dgn Murni. "Mas, ngobrolnya di sana yuk, ga enak dsini. Rame, brisik lagi!" kata Murni mengajaka aku ngobrol di teras kostan aku. "Ya udah, tapi tlg buatkan aku kpoi yah!" pintaku sambil berjalan menuju kostan. Tak lama Murni menyusul dgn membawa segelas kopi hitam kesukaanku. Malam ini dia terlihat makin seksi dgn kaos ketat kuning dan celana legging hitam. Kontras dgn kulinya yg putih dan montok. Mulailah pikiran kotor merasuki otakku. Setelah Murni duduk di depanku, kami melanjutkan obrolan seputar keadaan keluarga kami masing-masing. Sekitar satu jam Murni terlihat BT. "Mas boleh numpang nonton TV ga?" "masuk aja nonton sana, aku masih mau ngroko sambil ngopi" jawabku. Murni pun berlalu kedalam dan menyalakan TV. 14" tuaku. 

Stlah sebatang rokok kuhabiskan, kususul Murni kedalam dan duduk sebelahnya. Tak kukira Murni langsung merebahkan kepalanya didadaku. Kesempatan nih, pikirku. Kuusap dan kubelai rambunya yang panjang melewati bahu. Murni nampak menikmati. Kuberanikan diri mengangkat kepalanya dan kukecup lembut bibirnya. Murni sedikit kaget. Maklum, setelah cintaku diterima, kita hanya sekedar mengobrol. Ga pernah lebih. Namun, ia membalas ciumanku. Malah badannya dihadapkan ke diriku. kamipun berciuman dgn posisi murni duduk dipangkuanku. Kuberanikan diri meraba payudaranya. Murni sedikit menepis tanganku. Tapi aku tak putus asa. kucoba dan kucoba lagi sampai akhirnya Murni membiarkan tanganku meraba dan mermas lembut payudaranya. 

Ciuman Murni semakin gencar ketika tanganku kucoba menerobos masuk lewat belakang bajunya. Terasa lembut payudara atasnya yg masih terbungkus kutang berenda. Tiba-tiba Murni bangkit. Yaaaah, ngambek dia., pikirku. Tapi ga kusangka ternyata murni bangun untuk menutup pintu dan kembali ke pangkuanku dan meraih kepalaku. Kami lanjutkan kembali pekerjaan yg tertunda tadi. Semakin berani aku meciumi sekujur wajahnya. Nafas Murni sedikit tersengal ketika kuciumi daerah belakng telinganya. 

Kucoba mengangkat kaosnya. Tak ada perlawanan. Kaos Murni sudah terlpeas dan didepanku terpampang pemandangan indah. Sepasang payudara montok yg putih bersih walau masih terbalut kutang berenda. Kuciumi dengan uas daerah belahan toketnya, dan Murni nampak menikmatinya. Sambil kupeluk, kucoba melepaskan kait kutang dipunggung Murni. Berrhasil!!!. Kutang Murni terlepas dan kuloloskan dari bwah dan Munri melepaskan ciumannya agar kutangnya cepat terlepas. Langsung kujilati pentil susunya yg kemerahan. sementara tanganku meremas toket senbelahnya. Murni bergelinjang menahan kegelian dengan nafas yg tersengal-sengal. Nampaknya ia sudah terangsang. Puting susunya semakin maju dan mengncang. Kulepas Bajuku dan kuajak murni merebahkan diri sambil terus menjilati, mengulum dan meremas toket yg sudah lama kuidam-idamkan. Murni semakin bernafsu dengan meremas-remas pantatkusambil mengerang nikmat. Kucoba meraba selangkangannya dan Murni agak menolak dengan merapatkan pahanya. Tapi terasa sedikit oleh jariku. Memeknya mulai basah. Kuusap usap kemaluannya dari luar dan tiba tiba Murni memelukku dengan erat dan ia membekapkan mulutnya ke dadaku. Maassss, aaaaaahhhhhhhhhh..... Murni pipis..... Rupanya ia orgasme akibat rangsanganku di payudaranya. 

Murnipun bangun dan meraba selangkangannya. "Mas gimana ini, Murni ga tahan pengen pipis tadi, celana Murni basah". "kamu orgasme sayang, bukan pipis". jwbku menerangkan. "enak ga?" tanyaku "enak mas, sampe pipis hehehehe..." katanya sambil tertawa. Akupun bangun dan mengunci pintu. "Emang pipisnya banyak sayang?" tanyaku. "Boleh liat ga celananya?" tanyaku bersiasat. Padahal aku pengen liat memeknya yg terlihat munjung dari balik celana leggingnya. "Ga mau ah, malu. Masa Murni buka celana disini!". "Gapapa sayang, kan kamu calon istriku. Nanti klo kita menikah juga kita saling telanjang!" kataku menggombal. Murnipun bangun dan melorotkan celana legginga. ASTAGA!!! dari balik CDnya menyembul daging kemaluan yg menurutku hampir sama dengan ukuran toketnya (saking munjungnya tuh memek!) Tak kuat menahan konak langsung aku berlutut dan menciumi memeknya dari luar. "Mas, mau ngapain... Ih.... ngapain sih... oooh... shhhhh ... ahhhh.." prote Murni tak kudengar sambil sesekali kucoba menelusupkan jari kesela-sela CDnya. 

"Mmmmmaaaaassssssssshhhhhhh...... geli mas..... aaaahh. sshhhhhhh...." Murni terus mendorong kepalaku agar menjauh dari memeknya. Tapi aku tak peduli, aku terus mendesakkan kepalaku dan menjilati sekitar selangkangannya dan tanganku mencoba melorotkan CD Murni yg masih dlm posisi berdiri. Dengan sekali sentak, CD itu berhasil turun dan alamak........ bongkahan daging yg ditumbuhi jembut yg jarang jarang. Merah merekah, membuat gairahku semakin tinggi. Kuturunkan terus CDnya hingga benar-benar berada dibetisnya. Sementara lidahku mencoba menerobos ke sela sela belahan memeknya. "Mmmmmmmmmaaaaaaaaaassssssss, oooooohhhhhhhhhh........... aaaaaahhhhhhh........ sssssshhhhhhh.... aduh ......" Hanya itu yg keluar dari mulutnya sambil terus mendorong kepalaku. Sementara itu, entah kapan aku melepasnya, aku hanya tinggal memakai sempak. Kuajak Murni berbaring dan ia menurut. Kulepas CDnya yg masih nyangkut di kakinya sambil merenggangkan kedua belah kakinya. Saat kakinya merenggang nampaklah isi dari memek Murni yg merah, kelentitnya yg meruncing kujilati dengan rakus sambil sesekali memasukan lidahku ke rongga memeknya. Tiba-tiba, rambutku dijambaknya dan Murni kembali orgasme. "Mmmmmaaaaaaaasssssssss, aaaaaaaaaauwwwwhhhhhhhhh, nnnnnnnnnggggggghhhhhhhhhhhh. aaaaaaaaahhhhhhhhh!!!!!!!" itulah yg keluar dari mulutnya sambil melepas cairan kenikmatannya. KUjilati lelehan cairan memek yg membasahi sekitar bibir dan kumisku. Tak kulepaskan pula cairan yg meleleh sekitar memeknya. Tubuhnya melemas setelah dua kali kubuat orgasme. sambil kupandangi tubuh yg mulus yg tergolek lemas, kulepas celana dalamku. Kontolku langsung mnerobos setelah sedari tadi kukurung didalam CD. Langsung kuarahkan kepala kontolku kehadapan memeknya. Ku oles-oles di permukaan memeknya yg basah. Kembali Murni menggelinjang dan berdesah. Tak sabar kucoba masukkan kontolku ke liang memeknya. Murni sedikit menolak dengan kembali merapatkan pahanya. "Gapapa sayang, aku dah ga kuat lagi sayang..." pintaku memelas.... "Ga mau mas, Murni takut hamil. Nanti Bu Lik NIng marah sama aku!" "Murni sayang, aku kan sudah bilang kita akan menikah, ga usah takut. Bu Lik Ning sudah merestui hubungan kita. Ayo sayang, jangan siksa aku ....!?" kataku sambil terus berusaha membuka pahanya yg masih merapat. Nafsu birahi yg semakin memuncak membuat aku berbuat sedikit kasar dengan memaksanya mebuka pahanya yg tertekuk. Akhirnya Murni menyerah. Ia membuka pahanya dan tak buang waktu lagi langsung kusodokkan kontolku kedlam memeknya dengan perlan. "Awwwh... pelan-pelan mas, sakit... aaahhh... ssshhhh...". "Tenang sayang, sakitnya cuma sebentar, nanti juga enak!" rayuku sambil terus berusaha memasukkan kontolku. Kogerkan pantaku maju mundur dengan irama santai agar Murni menikmati sensasi kepala kontolku yg mencoba menembus memeknya. Dan akhirnya, blesssssss... cretttt.... kontolku masuk sebagian dan dilelehi cairan darah perawannya diiringi dengan lenguh kesakitan Murni dan tangannya mencengkeram erat lenganku. Kulihat ia mengigit bibir agar tidak berteriak. Kudekatkan wajahku dan kulumat bibirnya. Agar Murni terangsang kembali, kuremas pelan payudaranya dan sesekali kuplintir halus putingya. Alhasil, putingnya kembali mngeras tanda ia mulai terangsang lagi. Kurubah posisi tubuhku sedikit berjongkok sambil kupegangi kedua belah pahanya. Kulakukan lagi gerakan maju mundur. Kulihat murni menangis, kuseka air matanya dgn jariku sambil terus kupompa memeknya. Tak lama, kudengar Murni mulai melenguh nikmat, "aaaahhhh, sssshhhhhhhhh, oooooooowwwwwwwwwwwwhhhhh........ nnnnnnnnnnnnngggggggghhhhhhhhhh..... aaaaaahhhhh.....!" terus kopompa memeknya dengan sodokan kontolku. Tak terasa hampir seluruh kontolku sudah masuk keliang mememknya. kuturunkan pahanya agar menindih pahaku. Kuletakkan tangan diatas lantai dan terus memompa memek Murni yg sempit dan licin. Sekitar 10 menit kupompa memeknya, terasa aku akan ejakulasi. kupercepat gerakanku agar cepat kunikmati sensasi orgasmeku. dan tak lama, "Aaaaaaaaaaaaaassssssshhhhhhhh............ uuuughhhhhh...... crrrroooooooooot....... crot. crottttt.... kulepas lendir kenikmatan di dalam memek Murni dan akupun terkulai lemas. Setelah mengatur napas, kucabut pelan kontolku dan kucari pakaian kotorku untuk mengelap lelehan spermaku dan cairan memek Murni yg telah tercampur dgn darah perawannya. Kulap memek Murni dengan lembut sambil sesekali kucium aroma memeknya. Terlihat Murni matanya basah, kurebahkan badanku disebelahnya dan kuciumi pipinya. "Sayang kenapa nangis? Kamu nyesel melakukan ini dengan mas" tanyaku. "Murni ga nyesel mas, Murni nagis karena nahan sakit tadi. Murni seneng kok mas. Murni seneng bisa bikin mas bahagia, murni juga pengen mas bikin Murni sebahagia mas. Jangan pernah ninggalin Murni mas!". Tak kujawab malah kuraih kepalanya dan kulumat lembut bibirnya. Kuangkat tubuhnya agar menindih tubuhku. Murni memelukku. dan kami bergumul saling memagut bibir. Akibatnya, kontolku kembali bangun. Kupinta Murni menjilati kontolku tapi ia menolak terus. Akhirnya kupinta ia berjongkok diatas mukaku. Kujilati lagi memeknya yg montok. Sesekali kugigitb lembut kelentitnya yg meruncing. dan kami melanjutkan kembali pertempuran. Kupinta Murni nungging, mula-mula ia bingung. "Mas jangan dimasukin ke pantat. Bau ih.... !!".... "Nggak sayang, kamu diem aja, aku mau masukin ke memek kamu dr belakang. Rasanya lebih enak sayang..." Kusodk pelan memeknya yg sudah mulai kuyup lagi. 5 menit kulakukan gaya shaggy. Kusuruh Murni merapatkan pahanya sambil berpegangan ke tembok. Terus kusodk dia dgn irama agak cepat. Akhirnya, "Massssss... Murni mau kluar nih ...... aaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhsssssss...... sssssssssshhhhhhh... aaaaaaaaaahhhhhhhhhhh...!" . "tahan sayang, kita keluar barengan aja." Pintaku. dan tiba tiba murni berdiri dan terjatuh sambil mergeng melepas orgasmenya.... ooooooooooooooooooooooooooooohhhhhhhhhhhhhh....mas Murni lemes banget. Sementara aku mulai merasakan tanda-tanda orgasme pula. kudekatkan payudaranya ke kontolku dan kujepit kontolku dgn payudaranya. Koyang-goyang payudaranya hingga kontolku terasa seperti dikocok dan ... aaaaaaaahhhhhhhh.......... akhirnya kulklepaskan kembali lahar kenikmatanku di toket murni. 
Sampai jam 12 malam kami bersetubuh. dan ketika hendak berpakaian kuajak Murni ke kamr mandi dan kulap tubuhnya dengan handuk kecil yg sudah aku basahi. Ketika mengelap pyudaranya kembali aku terangsang dan menjilatinya lagi. sambil berjongkok kulap seluruh tubuh mulusnya dgn handuk basah. dan saat mengelap memeknya kubenamkan kepalaku dimemeknya seakan aku tak mau lepas dari barang yg sudah memberikan 3 kali kenikmatan padaku. Kuberikan CD dan celana Leggingnya, "Ga usah pake cd mas, basah ntar lengket. simpen aja disini. besok Murni cuci. Takut ketauan klo dibawa kewarung". "Kirain buat kenang-kenangan aku sayang", jawabku sambil mengecup bibirnya. "Udah dapet isinya, bungkusnya juga masih mau!" katanya sambil memakai celana legging. kamipun berpakian kembali dan kulepas Murni pulang dengan pelukan erat dan kecupan halus dibibirnya. "Kapan-kapan kita lakukan lagi ya sayang!?" pintaku. "Asal ada waktu dan kesempatan, kapan mas mau aku kasih. Asal jangan mas kasihkan mainan baruku ke perempuan lain ya mas." jawab Murni.



Read more »»  

CERITA MALAM NGAWEK SAMA ANAK SMA

hot-hotnya. Ini kejadian yang nyata menurut sumber yang saya dapat. Cerita porno ini adalah kisah dari anak SMA. Langsung saja ini dia Cerita porno nya.

Namaku Andhika, aku seorang siswa Kelas 1 di SMU yang cukup top di kota Makassar. Pada hari itu aku ingin mengambil tugas kimia di rumah salah satu teman cewekku, sebut saja Rina. Di sana kebetulan aku ketemu sahabat Rina. Kemudian kami pun berkenalan, namanya Laura, orangnya cukup cantik, manis, putih dan bodinya sudah seperti anak kelas 3 SMU, padahal dia baru kelas 3 SMP. Pakaian sekolahnya yang putih dan agak kekecilan makin menambah kesan payudaranya menjadi lebih besar. Ukuran payudaranya mungkin ukuran 32B karena seakan akan baju seragam SMP-nya itu sudah tidak mampu membendung tekanan dari gundukan gunung kembar itu.




Kami saling diam, hanya aku sedang mengamati dadanya dan pantatnya yang begitu montok. Wah serasa di langit ke-7 kali kalau aku bisa menikmati tubuh cewek ini, pikirku. Terkadang mata kami bertemu dan bukannya ke GR-an tapi aku rasa cewek ini juga punya perasaan terhadapku. Setelah satu jam berada di rumah Rina, aku pun berpamitan kepada Rina tetapi dia menahanku dan memintaku mengantarkan Laura pulang karena rumahnya agak jauh dan sudah agak sore dan kebetulan aku sedang bawa "Kijang Rangga" milik bapakku. Akhirnya aku menyetujuinya hitung-hitung ini kesempatan untuk mendekati Laura. Setelah beberapa lama terdiam aku mengawali pembicaraan dengan menanyakan, "Apa tidak ada yang marah kalau aku antar cuma berdua, entar pacar kamu marah lagi..?" pancingku. Dia cuma tertawa kecil dan berkata, "Aku belum punya pacar kok." Secara perlahan tangan kiriku mulai menggerayang mencoba memegang tangannya yang berada di atas paha yang dibalut rok SMP-nya. Dia memindahkan tangannya dan tinggallah tanganku dengan pahanya. Tanpa menolak tanganku mulai menjelajah, lalu tiba-tiba dia mengangkat tanganku dari pahanya, "Awas Andhi, liat jalan dong! entar kecelakan lagi.." dengan nada sedikit malu aku hanya berkata, "Oh iya sorry, habis enak sih," candaku, lalu dia tersenyum kecil seakan menyetujui tindakanku tadi. Lalu aku pun membawa mobil ke tempat yang gelap karena kebetulan sudah mulai malam, "Loh kok ke sini sih?" protes Laura. Sambil mematikan mesin mobil aku hanya berkata,
"Boleh tidak aku cium bibir kamu?"
Dengan nada malu dia menjawab,
"Ahh tidak tau ahh, aku belum pernah gituan."
"Ah tenang aja, nanti aku ajari," seraya langsung melumat bibir mungilnya.

Dia pun mulai menikmatinya, setelah hampir lima menit kami melakukan permainan lidah itu. Sambil memindahkan posisiku dari tempat duduk sopir ke samping sopir dengan posisi agak terbungkuk kami terus melakukan permainan lidah itu, sementara itu dia tetap dalam posisi duduk. Lalu sambil melumat bibirnya aku menyetel tempat duduk Laura sehingga posisinya berbaring dan tanganku pun mulai mempermainkan payudaranya yang sudah agak besar, dia pun mendesah, "Ahh, pelan-pelan Andhi sakit nih.." Kelamaan dia pun mulai menyukaiku cara mempermainkan kedua payudaranya yang masih dibungkus seragam SMP.

Mulutku pun mulai menurun mengitari lehernya yang jenjang sementara tanganku mulai membuka kancing baju seragam dan langsung menerkam dadanya yang masih terbungkus dengan "minishet" tipis serasa "minishet" bergambar beruang itu menambah gairahku dan langsung memindahkan mulutku ke dadanya.
"Lepas dulu dong 'minishet'-nya, nanti basah?" desahnya kecil.
"Ah tidak papa kok, entar lagi," sambil mulai membuka kancing "minishet", dan mulai melumat puting payudara Laura yang sekarang sedang telanjang dada.Sementara tangan kananku mulai mempermainkan lubang kegadisannya yang masih terbungkus rok dan tanganku kuselipkan di dalam rok itu dan mulai mempermainkan lubangnya yang hampir membasahi CD-nya yang tipis berwarna putih dan bergambar kartun Jepang. Mulutku pun terus menurun menuju celana dalam bergambar kartun itu dan mulai membukanya, lalu menjilatinya dan menusuknya dengan lidahku. Laura hanya menutup mata dan mengulum bibirnya merasakan kenikmatan. Sesekali jari tengahku pun kumasukkan dan kuputar-putarkan di lubang kewanitaannya yang hanya ditumbuhi bulu-bulu halus. Dia hanya menggenggam rambutku dan duduk di atas jok mobil menahan rasa nyeri. Setelah itu aku kecapaian dan menyuruhnya, "Gantian dong!" kataku. Dia hanya menurut dan sekarang aku berada di jok mobil dan dia di bawah. Setelah itu aku menggenggam tangannya dan menuntunnya untuk mulai membuka celana "O'neal"-ku dan melorotkannya. Lalu aku menyuruhnya memegang batang kemaluanku yang dari tadi mulai tegang.

Dengan inisiatif-nya sendiri dia mulai mengocok batang kemaluanku.
"Kalau digini'in enak tidak Andhi?" tanyanya polos.
"Oh iya enak, enak banget, tapi kamu mau nggak yang lebih enak?" tanyaku.
Tanpa berbicara lagi aku memegang kepalanya yang sejajar dengan kemaluanku dan sampailah mulutnya mencium kemaluanku. "Hisap aja! enak kok kayak banana split," dia menurut saja dan mulai melumat batang kemaluanku dan terkadang dihisapnya. Karena merasa maniku hampir keluar aku menyuruhnya berhenti, dan Laura pun berhenti menghisap batang kemaluanku dengan raut muka yang sedikit kecewa karena dia sudah mulai menikmati "oral seks". Lalu kami pun berganti posisi lagi sambil menenangkan kemaluanku. Dia pun kembali duduk di atas jok dan aku di bawah dengan agak jongkok. Kemudian aku membuka kedua belah pahanya dan telihat kembali liang gadis Laura yang masih sempit. Aku pun mulai bersiap untuk menerobos lubang kemaluan Laura yang sudah agak basah, lalu Laura bertanya, "Mau dimasukin tuh Andhi, mana muat memekku kecilnya segini dan punyamu segede pisang?" tanyanya polos. "Ah tenang aja, pasti bisa deh," sambil memukul kecil kemaluannya yang memerah itu dan dia pun sendiri mulai membantu membuka pintu liang kemaluannya, mungkin dia tidak mau ambil resiko lubang kemaluannya lecet.

Secara perlahan aku pun mulai memasukan batang kemaluanku, "Aah.. ahh.. enak Andi," desahnya dan aku berusaha memompanya pelan-pelan lalu mulai agak cepat, "Ahh.. ahh.. ahh.. terus pompa Andi." Setelah 20 menit memompa maniku pun sudah mau keluar tapi takut dia hamil lalu aku mengeluarkan batang kemaluanku dan dia agak sedikit tersentak ketika aku mengeluarkan batang kemaluanku.
"Kok dikeluarin, Andi?" tanyanya.
"Kan belum keluar?" tanyanya lagi.
"Entar kamu hamilkan bahaya, udah nih ada permainan baru," hiburku.
Lalu aku mengangkat badannya dan menyuruhnya telungkup membelakangiku.
"Ngapain sih Andi?" tanya Laura.
"Udah tunggu aja!" jawabku.
Dia kembali tersentak dan mengerang ketika tanganku menusuk pantat yang montok itu.
"Aahh.. ahh.. sakit Andhi.. apaan sih itu..?"
"Ah, tidak kok, entar juga enak."
Lalu aku mengeluarkan tanganku dan memasukkan batang kemaluanku dan desahan Laura kali ini lebih besar sehingga dia menggigit celana dalamku yang tergeletak di dekatnya.

"Sabar yah Sayang! entar juga enak!" hiburku sambil terus memompa pantatnya yang montok. Tanganku pun bergerilya di dadanya dan terus meremas dadanya dan terkadang meremas belahan pantatnya. Laura mulai menikmati permainan dan mulai mengikuti irama genjotanku. "Ahh terus.. Andhi.. udah enak kok.." ucapnya mendesah. Setelah beberapa menit memompa pantatnya, maniku hendak keluar lagi. "Keluarin di dalam aja yah Laura?" tanyaku. Lalu dia menjawab, "Ah tidak usah biar aku isep aja lagi, habis enak sih," jawabnya. Lalu aku mengeluarkan batang kemaluanku dari pantatnya dan langsung dilumat oleh Laura langsung dihisapnya dengan penuh gairah, "Crot.. crot.. crot.." maniku keluar di dalam mulut Laura dan dia menelannya. Gila perasaanku seperti sudah terbang ke langit ke-7.
"Gimana rasanya?" tanyaku.
"Ahh asin tapi enak juga sih," sambil masih membersihkan mani di kemaluanku dengan bibirnya.

Setelah itu kami pun berpakaian kembali, karena jam mobilku sudah pukul 19:30. Tidak terasa kami bersetubuh selama 2 jam. Lalu aku mengantarkan Laura ke rumahnya di sekitaran Panakukang Mas. Laura tidak turun tepat di depan karena takut dilihat bapaknya. Tapi sebelum dia turun dia terlebih dahulu langsung melumat bibirku dan menyelipkan tanganku ke CD-nya. Mungkin kemaluannya hendak aku belai dulu sebelum dia turun. "Kapan-kapan main lagi yach Andhi!" ucapnya sebelum turun dari mobilku. Tapi itu bukan pertemuan terakhir kami karena tahun berikutnya dia masuk SMU yang sama denganku dan kami bebas melakukan hal itu kapan saja, karena tampaknya dia sudah ketagihan dengan permainan itu bahkan Laura pernah melakukan masturbasi dengan pisang di toilet sekolah. Untung aku melihat kejadian itu sehingga aku dapat memberinya "jatah" di toilet sekolah.
Read more »»  

CERITA DEWASA SEKS HEBAT PEMBANTU MBOK TAMI

Kejadian ini terjadi tepatnya pada tahun 2006, Gue berasal dari suatu keluarga yang cukup berada di bilangan Jakarta Timur. 

Gue merupakan anak ke empat dari lima bersaudara yang sekarang berumur 25 tahun... gue punya pembokat namanya Tami yang sampai sekarang masih setia ngabdi di keluarga gue semenjak masih gadis hingga udah menikah dan kemudian cerai dengan suaminya.

Kriteria pembokat gue dengan postur body menantang toket ukuran 36 B plus bokong yang bak bemper yang padet, tinggi badannya kira kira 160 dan berkulit putih.... karena pembantu gue ini orang asal Kota Bandung, umurnya sekarang kira kira 29 tahun. silakan bayangkan gimana bodynya, gue aja kalo liat dia lagi ngepel langsung otomatis dede yang di dalem celana langsung mengeliak saat bongkahan dadanya memaksa keluar dari celah kerah bajunya.




Terkadang di pikiran gue terlintas pemikiran kapan yang bisa nyicipin tubuh montok pembokat gue yang aduhai itu... udah naga bonar gak bisa di ajak kompromi lagi, liat sedikit aja langsung bangun dari tidurnya...
Pernah suatu hari gue lagi mau ganti baju di dalam kamar pas waktu itu gue lupa ngunci pintu... tiba tiba gue kaget pembokat gue masuk tanpa ngetuk ngetuk lagi, mungkin dia pikir udah lama kerja sama keluarga gue n udah kenal gue dari gue masih SD...
"Eh..., lagi ganti baju ya... Min" kata pembantu gue sambil buka pintu kamar gue tanpa ada rasa kegelisahan apa apa saat liat gue gak pake apa apa... cuma tinggal CD aja yang belom gue lepas.
"Mbak, ketok dulu dong kalo mau masuk kamar Amin... gimana kalo pas masuk Amin lagi telanjang..." celetuk gue sama dia
"Emangnya kenapa sih Min, saya kan udah lama kerja di keluarga Amin... ,lagian'kan waktu masih SD juga kamu suka pake CD aja kalo di rumah...". Kata Tami sama gue yang kayaknya acuh terhadap posisi gue yang telanjang.
"Mbak... itu'kan dulu, waktu saya masih SD. Sekarang'kan saya sudah besar... Mbak memang gak malu yah liat saya kalo telanjang bulat gak pake apa apa..." celetuk asal keluar dari mulut.
"Iiiihhh.... malu gapain... lagian saya juga gak mau liat... yah udah sana kalo mau ganti baju, mbak mau beresin kamar kamu nih yang berantakan mulu tiap hari kayak kandang sapi..."
Karena dia menjawab dengan rasa yang tidak keberatan kalo gue ganti baju disaat ada dia. Dengan santai gue mulai turunin CD gue yang nutupin kontol gue yang udah mulai agak kenceng dikit...
Tanpa sengaja gue tangkap lirikan matanya yang memandang ke arak selangkangan gue yang di tumbuhin rambut yang lebat...

"Nah... tuh ngeliatin mulu... katanya tadi mbak Tami gak mau liat, sekarang liat mulu..."
"Siapa yang liat... wong saya lagi beresin sprei yang berantakan ini kok..." bantah dia karena malu mungkin kepergok ngelihat kearah selangkangan gue.
AKhirnya gue tinggal dia di dalam kamar gue yang sedang beresin kamar gue yang berantakan itu, di luar gue jadi teringat gimana yah caranya buat bisa nikmatin tubuh pembantu gue yang bahenol ini... dan gue rasa dia juga kayaknya penasaran sama kontol gue yang gede ini... buktinya beberapa kali gue pergokin dia ngelirik terus kearah gue.

Pas suatu hari libur, hari minggu keluarga gue pada pergi ke rumah kerabat gue yang mau nikahin anaknya.
"Min... kamu mau ikut gak. Mama semuanya mau pergi ke pesta pernikahan anaknya tante Ami di Bandung...". Tanya Mama gue.
"Kapan pulangnya Ma,..." Jawab gue sambil ngucek ngucek mata karena baru bangun...
"Mhhhmmm,... mungkin 2 hari deh baru pulang dari Bandung, kan capek dong Min kalo langsung pulang...
kamu tanya kapan pulang, kamu mau ikut gak... atau mau di rumah saja" tanya mamaku kembali...
"Kayaknya dirumah aja deh Ma... abis capek ah, jauh... lagian besok Amin ada acara sama teman teman Amin..." jawabku
ku seraya kembali membenamkan kepalaku kembali ke bantal...
"Yah udah... mama mau berangkat jalan kamu baik baik yah jaga rumah... mau apa minta aja sama Mbak Tami yaa..."
"Tami... Tami... Tami..." panggil Mamaku
"Iya Nyah..., Maaf saya lagi nyuci. Kurang denger tadi Nyonya panggil. Kenapa Nya..." Jawab Mbak Tami
Sambil datang dari belakang yang ternyata sedang cuci baju... baju yang dikenakan sebetulnya tidaklah menantang, namun
karena terkena air sewaktu mencuci menjadi bagian paha dan dadanya seakan transparan menantang...
"Tami... kamu jaga rumah yah selama saya dan tuan pergi ke Bandung"
"Iya Nyah... ," jawab kembali pembokat gue itu ke mama gue...

Setelah kira kira selang beberapa jam setelah keberangkatan mamaku... akhirnya Gue keluar dari kamar hendak buang air kecil.
Perlu Bro2 ketahui jarak antara tempat pembantu gue nyuci sama kamar mandi deket banget... waktu gue jalan ke kamar mandi, gue liat pembantu gue yang lagi nyuci baju dengan posisi duduknya yang buat naga di dalam cd gue bangun...
Pembantu gue pake T-shirt putih yang tipis karena dah lama di tambah lagi kaosnya kena air, secara langsung keliatan jelas banget BH krem yang dipake pembantu gue berserta paha mulusnya yang udah agak terbuka karena duduknya hingga keliatan CD putihnya...
"Anjriiit, mulus juga nih pembantu gue meskipun udah janda anak satu tapi dari paha dan teteknya masih keliatan kenceng, kayak cewek yang belum pernah kesentuh sama laki laki".oceh gue dalam hati sambil kencing trus ngelirik ke pahanya yang mulus itu.

Sambil kencing gue mikir gimana caranya buka omongan sama pembantu gue, biar gue bisa agak lamaan liat CD dan teteknya yang aduhai itu... pantes banyak tukang sayur selalu suka nanyain Mbak Tami mulu kalo tiap pagi...

"Mbak gimana kabar Ani, sekarang udah umur berapa... Mbak Tami kok bisa sampai cerai sih sama suaminya"Iseng gue tanya seputar hubungan dia sama mantan suaminya yang sekarang udah cerai, dan kenapa bisa sampai cerai... gugup juga sih gua waktu nanyanya kayak gue nih psikolog aja...

"Kok tiba tiba Amin tanya tentang itu sih sama Mbak...? "
"Gak pa pa kan Mbak... ?"
"Anak mbak sekarang udah umur lima tahun, mbak cerai sama suami mbak karena dia pengangguran... mau nya enak doang.
Mau bikinnya tapi gak mau besarin. Ya... lebih baik mbak minta cerai aja. masa sih mbak sendiri yang banting tulang cari uang,
sedangkan suami mbak cuman bangun, makan, main judi sampai subuh... males Min punya suami pengangguran, lebih baik
sendiri... sama aja kok" Jawab pembantu ku panjang lebar, seraya tangannya tetap membilas baju yang sedang ia cuci.

Ini dia masuk ke dalam dialog yang sebenarnya... akhirnya pembicaraan yang gue maksud agar gue arahin pembicaraan hingga tentang persoalan hubungan intim.

"Lah... bukannya enakan punya suami, mbak... daripada gak ada..."
"Enak dari mananya Min... punya suami sama gak punya sama aja ah..."
"Loh beda dong mbak..."
"Beda dari mananya Mih... coba jelasin, aah kamu ngomongnya kayak kamu dah pernah ngerasain menikah aja sih Min..."
tanya pembantuku sambil bercanda kecil.
"Yah beda lah mbak... dulu kalo masih ada suami kan kalo lagi pengen tinggal minta sama suami mbak... sekarang udah cerai
pas lagi pengen... mau minta sama siapa..." Jawab gue sambil menjuruskan kalimat kalimat yang gue tuju ke hal yang gue
inginin.
"Maksud Amin apa sih... mau apa. Ngomongnya jangan yang bikin mbak bingung dong Min..."
"Gini mbak, maksudnya apa mbak gak pernah pengen atau kangen sama ini nya laki laki..." waktu gue ngomong gitu sambil gue turunin dikit celana pendek gue, trus gue keluarin punya gue ngadep ke depan mukanya...

"Iiih gede banget punya kamu Min... punya mantan suami mbak sih gak begitu gede kayak gini..." Jawab mbak Tami sambil melotot ke kontol gue yang udah Super tegang, karena dari tadi udah minta di keluarin.
"Kangen gak sama Kontol laki laki mbak..." tanya Gue kembali yang sempat membuyarkan pandangan mbak Tami yang dari
setadi tak lepas memandang kontolku terus.
"...... waduh mbak gak tahu deh Min..., kalo punya mbak dimasukin sama punya kamu yang gede kayak gini. Gimana rasanya
mbak gak bisa ngebayangin..."
"Lho... mbak saya kan gak tanya apa rasanya di masukin sama punya saya yang lebih gede dari punya mantan suami mbak. Saya kan cuman tanya apa mbak gak kangen sama punyanya laki laki2 Padahal didalam hati gue udah tahu keinginan dia yang pengen ngerasain kontol gue yang super size ini...
"mmmmhhhhh... maksud mbak Tami sih... yah ada kangen sama punya laki laki... tapi kadang kadang mbak tahan aja, abis
mbak kan dah cerai sama suami... " jawab mbak Tami yang keliatan di pipinya merona karena merasa jawabannya ngawur
dari apa yang gue tanyain ke dia"
"Mbak... boleh gak saya pegang tetek mbak "
"Iiihh... Min kok mintanya sama mbak sih, minta dong sama pacar Amin... masa sama mbak..."
"Yah... gak pa pa sih, saya mau ngerasain begituan sama mbak Tami... gimana sih begitu sama ce yang udah pernah punya
anak... boleh yah mbak... " kata gue sambil mendekatkan kontol gue lebih dekat ke mulutnya...
"iiih Amin... punya kamu kena mulut mbak nih... memangnya kamu gak malu gituan sama mbak Tami..." jawab mbak dian sambil merubah posisi duduknya sambil menghadap ke kontol gue dan ngelepasin baju yang sedang dia bilas...
"Yah gak lah kan gak ada yang tahu... lagian kan gak ada yang tahu, kan sekarang gak ada orang selain mbak Tami sama saya"
jawab gue sambil yakinin ke dia, biar di mau kasih yang gue pengen.
"Tapi jangan keterusan yah... trus kamu mau di apain sama mbak..."
"Mbak mulutnya di buka dikit dong, saya mau masukin punya saya ke dalam mulut mbak Tami..."
"Iih... gak ah jijik... masa punya kamu di masukin ke dalam mulut mbak... mbak gak pernah lakuin kayak gini sama mantan
suami mbak, gak ahh... " tapi posisi tangannya sekarang malah megang kontol gue sambil ngocok ngocok maju mundur.
"Cobain dulu mbak enak loh... anggap aja mbak Tami lagi kemut permen lolipop atau es krim yang panjang" rayu gue ngarep
mbak Tami mau masukin kontol gue ke dalam mulutnya yang mungil itu.

Akhirnya permintaan gue diturutin tanpa banyak ngomong lagi mbak Tami majuin mukanya kearah kontol gue yang udah
super tegang itu kedalam mulutnya yang mungil... sementara dia emut kontol gue maju mundur yang terkadang di selingin jilatan jilatan yang bikin gue pegang kepalanya trus gue tarik maju hingga kepala kontol gue mentok sampe kerongkongan mbak Tami.
"Ooooooh... mbak emut truuuus mbak.... ennnnak banget" sambil tangan gue mulai turun megang teteknya yang mengoda itu.
Tangan gue masuk lewat kerah kaosnya, trus langsung gue remes kera teteknya... Tangan mbak Tami juga kayaknya gak mau
kalah sama gue. Dia malah makin ngedorong pantat gue dengan tangannya hingga hidungnya nempel sama jembut gue...

Karena tempatnya kurang tepat untuk bertempur lalu gue ajak mbak Tami ke ruangan tengah sambil ngemut kontol gue jalan ke ruangan tengah. Perlu di ketahui mbak Tami merangkak seperti anjing yang haus sex gak mau lepas dari kontol gue, merangkak berjalan ngikutin langkah kaki gue yang mundur ke arah ruang tengah.

Gue liat mulutnya yang mungil sekarang terisi kontol gue... tangannya sambil remas remas buah dadanya sendiri...
" Mbak Tami lepasin dulu dong kontol saya, buka dulu baju mbak Tami. Entarkan mbak juga nikmatin sepenuhnya punya saya..."
" Min.... punya kamu enak banget... mbak kira dari dulu jijik kalo liat ce ngemut punyanya cowok... ehh ternyata nikmatnya
bener bener bikin ketagihan Min..."

Dengan cepat mbak Tami membuka seluruh baju dan roknya yang tadi basah karena kena air... Wooow, sungguh pemandangan yang sangat indah... kini di hadapan gue telah ada seorang wanita yang telanjang tanpa tertutup sehelai benang... berjalan menghampiri gue dengan posisi doggie style mbak Tami kembali memasukkan kontol gue ke dalam mulutnya yang mungil itu.

Dengan jelas bisa gue liat buah dada yang gelantungan dan bongkahan pantat yang begitu padat, yang selama ini udah banyak bikin kontol gue penasaran pengen di selipin diantara bongkahan itu...
nafas suara mbak Tami semakin lama semakin membara terpacu seiringin dengan birahi yang selama ini terkubur di dalam dirinya. Sekarang terbangun dan mendapatkan suatu kepuasan seks yang selama ini ia tahan tahan.
Sementara mbak Tami ngemut kontol gue, gue remas teteknya yang menantang itu terkadang gue pegang MQ nya yang ternyata udah banjir oleh cairan kenikmatan.
Gue tusuk tusuk jari tengah gue ke dalam memeknya hingga mbak Tami ngeluarin desahan sambil meluk pantat gue...

" Mmmmhhhhh..... ooooooohhhhhh......" desahannya begitu menambah gue buat semakin cepat menusuk nusuk liang kenikmatannya semakin cepat.
"Min.....OOooooohhhh.... Min... enak Min... enak...." Desahan mbak Tami benar benar membuat semakin terangsang...
tusukan jari yang gue sodok sodok pun semakin gencar...

" Aaaaaahhhh.... Amiiiinnnn.... OOOhhhhh Ammiiiinn... mbakkkkk..... mmmmbbaa..... klllluuuaar... " bersamaan dengan desahan mbak Tami yang panjang, akhirnya mbak Tami telah mencapai puncak kenikmatannya yang terasa di jari tengah yang
gue sodok sodok ke lubang MQ nya waktu mbak Tami menyemprot cairan kenikmatannya....
Karena mbak Tami telah mengalami organismenya yang pertama, maka Gue pun tak mau kala. Irama sodokkan kontol gue percepat kedalam mulut mbak Tami berkali kali hingga desahan panjang gue pun mulai keluar yang menandakan sperma gue akan muncrat...

" Mbak, Amin mau kkkkelllluaaar.... aaaaahhhh.... sedot mbak... sedot peju Amin.... " kata gue sama Mbak Tami sambil menahan kepalanya untuk memendamkan kontol gue hingga masuk ke tenggorokannya. Namun Mbak Tami meronta-ronta tidak menginginkan sperma gue keluar di dalam mulutnya... sia-sia rontahan mbak Tami, Sperma gue akhirnya keluar hingga penuh di dalam mulutnya.
Crroooot.... Crooot... crooot... akhirnya Gue semburkan berkali kali peju gue di dalam mulut mbak Tami. Meskipun pada saat Mbak Tami tidak ingin menelan Sperma gue namun gue memaksanya untuk menelannya dan menikmati Sperma gue yang segar itu.

Posisi mbak Tami masih sama seperti sebelumnya, namun sekarang kakinya seperti kehilangan tenaga untuk menahan berat badannya mengalami kenikmatannya... dari sela sela bibirnya mengalir sisa spermaku yang di jilat kembali. Tubuh mbak Tami kini terkapar tak berdaya namun menampilkan sosok wajah penuh dengan kepuasan yang selama ini tak ia dapatkan.
Melihat expresi wajahnya membuat gue kembali semakin nafsu... karena dari tadi gue anggap hanyalah pemanasan.

Setelah itu gue berjalan mendekat ke tubuh mbak Tami yang sedang lemes... trus menelentangkan posisi tubuhnya dan gue renggangkan kedua belah pahanya. Dengan tangan sebelah kanan gue genggam kontol gue yang udah tegang terus menerus mengesek gesekan kepala kontol gue di atas permukaaan Memek mbak Tami yang udah licin, basah karena cairan kenikmatan milik mbak Tami. Saat Gue mau menjebloskan kontol gue yang udah menyibak bibir memeknya, tiba tiba mbak Tami menahan dada gue dan berharap gue gak masukin kontol gue ke dalam memeknya yang sudah lima tahun gak pernah terisi sama kontol laki laki...

Karena saat itu nafsu gue udah sampe otak, gue dah gak perduli lagi sambil tetap ngeliat ke bawah tempat dimana kontol gue sekarang akan menembus liang kenikmatan yang sungguh sungguh mengiurkan...

"Tenang mbak tahan dikit... saya ngerti mungkin kontol saya terlihat terlalu besar dibandingkan memek mbak. Tapi nanti disaat udah masuk kedalam memek mbak... nikmatnya akan 10x lipat nikmat yang pernah mbak Tami rasain sama mantan suami
mbak..." gue bisa liat di matanya takut saat detik detik gue akan menghujang basoka yang besar ini kedalam memeknya yang terbilang sempit...
" Miiiinn..... peeellllannn... mbak ngeri liat punya kamu yang besar banget itu.... " kata mbak Tami sambil melirik ke arah basoka rambo yang siap mengaduk-aduk isi memeknya.
" Iya... Amin coba pelan pelan masukinnya... mbak tahan dikit yah... mungkin karena dah lama aja mbak kali mbak... " kataku kembali kepada mbak Tami seraya meyakinkan hatinya.

Sambil kembali menaikkan kembali libidonya, gue gesek gesek kepala kontol gue tepat diatas bibir memeknya yang mulai kembali basah sama cairan kewanitaannya. Terkadang gue selipin sedikit demi sedikit ke dalam liang memeknya mbak Tami, lalu gue tarik kembali dan mengesekkan kembali ke memek nya yang merah segar itu. sleep...sleep... sleeep... mungkin saking basahnya memek mbak Tami hingga mengakibatkan suara seperti itu....
" hhmmmmm... eeee... ssstttt..... Miiiin... Miiiin... Kamu apain punya mbak. " tanya mbak Tami sambil matanya terpejam mengigit bibir bawahnya sendiri...
" Miiin... udah dong... jangan bikin mbak Tami kayak gini trus.... masukkin aja Miin "
" Mbak mohon kasihan kamu... masukin punya mu ke punya mbak... mbak gak tahan lagi... ooohhh... eemmmm... " rengek mbak Tami sama gue mengharap segera kontol gue masuk ke dalam memeknya dan memompa dia.

" Tahan mbak yah... " lalu tanpa menunggu jawaban selanjutnya ku tancapkan seluruh batang kontol gue yang udah dari tadi mau mengobok ngobok memeknya.
" Miiiiiinn...... " sahut mbak Tami di saat pertama gue terobos memeknya, tangannya langsung merangkul leher gue. Seperti orang yang menggantungkan setengah badannya.
" Pelan... pelan... Miiiin... nyeri... bannngeet ..."

Namun gue gak sahutin ucapan mbak Tami, karena gue lagi nikmatin sesuatu yang memijit kontol gue yang terkadang menyedot nyedot kontol gue ini. Rasanya begitu nikmat hingga gue tancap lagi lebih dalam sampai terasa kontol gue mentok di dasar rahim mbak Tami yang montok ini.
Desahan liar mbak Tami pun semakin tak karuan... terkadang dengan tangannya sendiri mbak Tami memelintir puting susunya yang udah mengeras...

" Gimana Mbak masih sakit... sekarang rasanya apa... enak gak mbak... " tanya ku kepada mbak Tami setelah gue liat raut mukanya yang penuh dengan expresi kenikmatan. Gerakkannya dan goyangan pinggulnya yang mengikuti irama enjotan gue pun semakin lama semakin liar. Kadang kadang pantatnya di hentakkan ke atas yang berbarengan dengan sodok sodokkan yang gue hujam ke memeknya.
" Miiiinn... Miiinn... kamu hebat banget... Minn...."
" Miiin... mmmmmaaauuu... mmmmmbbbaaakk keluar nih... OOOOOoooooohhh " Cengkraman tangannya di punggungku dan lipatan kedua kakinya pada pinggangku bersamaan dengan erangan panjang yang menandai bahwa mbak Tami akan menyemburkan air maninya...

Karena gue masih ngaceng dan semakin bertambah bernafsu setelah ngeliat raut muka seorang janda beranak satu ini merasa kepuasaan, lalu tanpa banyak buang waktu lagi.
Gue langsung membalikkan tubuh mbak Tami dan memintanya untuk menungging, ternyata mbak Tami tanpa bertanya kembali ia menuruti permintaan gue yang ingin cepat cepat menghajar kembali memeknya...
" Amiin, kamu memang hebat Miin... mbak baru pertama kali di entot sama laki laki lain selain mantan suami mbak sendiri "
" Miin, sekarang kamu mau apain aja mbak ikutin aja... yang penting mbak bisa ikut nikmatin punya kamu Miin... " kata mbak Tami sambil mempersiapkan memeknya dengan membersihkan memeknya dari cairannya sendiri yang mengalir hingga di kedua pangkal pahanya. Beberapa kali ia seka memeknya sendiri hingga bersih dan terlihat kering kembali... dan siap untuk di santap kembali.

Sekarang di hadapan gue mbak Tami sudah siap dengan 2 pasang bongkahan pantatnya yang masih kenceng, dengan posisi kepalanya lebih rendah dari pada pantatnya. Liang kewanitaannya seakan akan menantang Kontol gue untuk memompa memeknya mbak Tami kembali...
Jelas terlihat belahan bibir memeknya yang membuka sedikit mengintip dari celah daging segar karena barusan gue entot.
Dengan tangan sebelah kanan gue pegang batang kontol gue dan tangan sebelah kirinya gue membuka belahan pantatnya yang mulus sambil terkadang gue usap permukaan memeknya yang tandus bukan karena suka di cukur namun memang sudah keturunan, setiap wanita dikeluarga tidak akan memiliki bulu/jembut pada memek. Sungguh indah sekali pemandangan yang terpampang, memek yang mengiurkan terjepit oleh dua bongkahan pantatnya yang bahenol itu.
Kumajukan kontol gue hingga menempel di permukaan memek mbak Tami, mengorek gorek permukaan memeknya dengan kepala kontol gue. Ternyata apa yang gue lakukan ini sangat dinikmati oleh mbak Tami sendiri... yang terkadang selalu mendesah setiap kali bibir memeknya tersibak karena gesekan kepala kontol gue.

Lalu dengan gerakan perlahan gue tusuk memek mbak Tami perlahan biar sensasi yang timbul akan semakin nikmat disaat itilnya ikut masuk bersama dengan dorongan kontol gue yang mulai terpendam.
" Geli banget Min rasanya... tapi lebih enak Min rasanya daripada sebelumnya... "
" Minn... lebih keras.... Minn... puasin mbak Minn... " pinta mbak Tami.
" Minn... lagiii... laggiii... Minn... lebiiihhh.. kencenggg lagi... " pinta kembali mbak Tami sambil mulutnya yang ter engap engap seperti ikan yang baru saja keluar dari air.

Hujaman kontol gue kini semakin cepat dan semakin gencar ke dalam memeknya... hingga menimbulkan suara suara yang terjadi karena sodokan sodokan kontol gue itu. Tingkat aktivitas yang gue lakukanpun kini semakin gencar. Tangan gue memeras buah dada mbak Tami hingga erangan mbak Tami pun semakin menjadi tak kala hentakan kontol gue yang kencang mengesek dinding liang kewanitaannya.
Cukup lama juga gue memompa mbak Tami dengan style doggie ini, hingga gue menyuruh mbak Tami berganti variasi seks. Posisi mbak Tami sekarang tidur terlentang namun kakinya menimpa pada kaki sebelahnya dan badannya agak miring, dengan posisi ini memeknya yang terhimpit terlihat seakan membentuk belahan memek.
Lalu kembali lagi gue masukin kontol gue yang masih keras ini kedalam memek mbak Tami, dengan tangan sebelah gue menahan di pinggulnya. Kali ini dengan mudah kontol gue masuk menerobos liang kewanitaannya, enjotan gue kali ini benar benar nikmat banget karena sekarang posisinya kontol gue serasa di jepit sama pantatnya.
Setiap dorongan kontol gue menimbulkan sensasi yang lebih di raut muka mbak Tami. Mukanya mendahak ke arah gue sambil memegang lengan tangan sebelah kiri sambil mulutnya terbuka.

" Mbak... enak gak... kontol Amin... " tanya gue sama mbak Tami dengan nafas yang telah terengah engah.
" Enaaaak... Miin .... Truuus .... Miin.... jangan brenti... "
" Ngomong mbak Tami kalo mulai saat ini mbak memang pelacur Amin... mbak suka banget sama kontol Amin..." Suruh gue ke mbak Tami buat niru ucapan gue.
" Mbak memang pelacur Amin... kapan aja Min mau... mbak layani... sssstt... Min... "
" Mbak suka bngeeeeet... koooontol Amiiin... ennnntotin mbak Tammmiii tiap hari Miiin... entotin... entotin.... trussss "

Mendengar seruan mbak Tami yang tertahan tahan karena nafsu yang besar kini sudah menyelubungi seluruh saraf ditubuhnya, menambah birahi gue semakin memuncak. Menambah gue semakin cepat dan cepat mengentotin mbak Tami, sampai sampai goyangan buah dadanya seiringan dengan dorongan yang gue berikan ke dalam memek...

Akhirnya mbak Tami kembali mencapai puncaknya kembali, sambil memasukan jarinya kedalam lubang anusnya sendiri...
" Miiin... mbak.. mmmmau... kllllluaaar laaagi.... ooooooohhh...Miiinn.... " erang mbak Tami yang hendak memuncratkan air semakin membuat ku terangsang karena mimik mukanya yang sungguh sungguh mengairahkan.
Dengan badan yang telah lunglai, mbak Tami terkapar seperti orang yang lemah tak berdaya. Namun pompaan kontol gue yang keluar masuk tetap gak berhenti malah semakin lama semakin cepat.

Tiba tiba gue ngerasain sesuatu yang berdenyut denyut disekitar pangkal kontol gue. Dengan keadaan mbak Tami yang sudah tidak berdaya aku terus mengentotin memeknya tanpa memperdulikan keadaan mbak Tami yang sekujur tubuhnya berkeringat karena kelelahan setelah gue entotin dari tadi.

" Mbaaaak,,... Amin...niii mmmaaau.. kkkeluarrrr... Aaaahhhh.... " Seruku disaat sesuatu hendak mau menyembur keluar dan terus menerus memaksa.
Crrrooot... Crrrooot... CCrooot... akhirnya gue tersenyum puas dan mencabut kontol gue dari dalam memek mbak Tami lalu memangku kepalanya dan meminta mbak Tami membersihkan bekas bekas cairan gue yang bececeran di selangkangan gue...

Gak pernah gue sia sia in saat berdua dirumah... setiap saat gue mau, langsung gue entot mbak Tami. Saat mbak Tami lagi ngegosok baju tiba tiba gue sergap dia dari belakang dan langsung buka celananya dan gue entot mbak Tami dalam keadaan berdiri dan slalu gue keluarin di dalam memeknya dan yang terkadang gue suruh mbak Tami BJ gue lalu gue keluarin di dalam mulutnya serta langsung di nikmatin cairan gue itu... katanya nikmat...
Hari hari yang sangat sungguh indah selama beberapa hari gue selalu entotin mbak Tami dengan berbagai variasi seks... hingga sampai mbak Tami sekarang hebat dalam mengemut kontol gue... Mbak Tami pun gak pernah menolak saat gue membutuhkan memeknya karena dia juga sudah ketagihan sodokan kontol gue. Sering malam malam mbak Tami suka masuk ke kamar gue dan suka sepongin kontol gue hingga gue bangun dan langsung gue entot mbak Tami
Read more »»  

Rabu, 10 April 2013

Foto Hot | Semprotan Air Susu Janda Kembang

Foto Hot | Semprotan Air Susu Janda Kembang - Kumpulan Berita Harian Terbaru.Cerita Dewasa,Cerita Seks,Dunia Dewasa,Foto Artis, Foto Hot, Foto Bugil, Foto Seksi, Semua Ada Di Pulauhot.com






































































Foto Hot | Semprotan Air Susu Janda Kembang 
Read more »»  

Foto Hot | Ngintip Cewek Abg Tidur Ngangkang

Foto Hot | Ngintip Cewek Abg Tidur Ngangkang - Nah buat para sobat muda yang lama ga ngintip paha mulus dan CD cewek lagi tidur-ngangkang, nah paastinya foto cewek dibawah ini bisa jadi pengobat rindu sob. Langsung aja sob Cekkicrroot..















































Read more »»  

Cerita Dewasa Bergambar | Merasakan Wanita ONANI Di Rumahku


Cerita Dewasa Bergambar | Merasakan Wanita ONANI Di Rumahku | Cerita Dewasa - Saya, suami dan anak-anak tinggal di apartemen (kalau di Indonesia sih disebutnya mesti condominium). Apartemen kami tidak jauh dari sekolah anak-anak, cukup jalan kaki saja. Saya 45 tahun, suami 5 tahun lebih tua dari saya. Anak-anak kami sudah ada yang sekolah di SMA.

Anak saya yang SMA itu namanya Bayu. Teman-teman Bayu sering main dan menginap di apartemen kami. Kadang-kadang numpang tidur siang juga. Biasa lah anak-anak. Ada satu temannya yang paling rapat dengan anak saya, namanya Hasan. Mereka sekelas dan dari SMP kelas 1 memang sudah berteman. Hasan ini sangat sopan kepada saya, dia selalu panggil saya Tante. Saya juga kenal baik ibu Hasan yang rumahnya satu condo dengan saya. Walau Bayu sedang keluar, Hasan masih tetap suka juga datang dan ikut nonton TV, atau malah numpang istirahat di kamar Bayu.

Walau Hasan sangat sopan, tetapi saya juga maklum, bahwa di usia yang abg ini, dia mesti sedang mekar-mekarnya dan mencari tau mengenai lawan jenis. Saya kadang-kadang bercanda juga sama dia mengenai soal punya pacar, tetapi dia cuma nyengir dan senyum malu. Katanya kalau anak-anak perempuan SMA sih payah, tidak menarik. Kalau udah gitu kita jadi saling bergurau, walau tetap sopan. Di rumah saya biasa pakai daster panjang yang sampai di bawah lutut. Sopan deh pokoknya. Yang saya tak menyadari adalah Hasan memiliki perasaan tertarik ke saya. Mungkin karena kita sering ngobrol di apartemen, ada Bayu atau tidak ada Bayu, Hasan dan saya tetap saja masih juga ngobrol. Entah ya, mungkin dia pikir tingkah laku dan cara saya ngomong elegan gitu (maklum kan ibu-ibu mesti elegan). Dia sangat memperhatikan saya. Saya sih senang saja diperhatikan. Walau saya awalnya tidak curiga bahwa perhatian Hasan itu ada makna yang lain. Tetapi lama-lama saya rasa dia sering memperhatikan gerak gerik saya dari ekor matanya, dan kalau saya pandang balik, dia pura-pura melihat ke arah lain. Apa dia mulai memperhatikan tubuh saya?

Walau saya sangat terhormat di lingkungan kami, dan di antara ibu-ibu. Tiada orang yang tahu bahwa saya sangat suka browse internet dan terutama membaca cerita-cerita yang erotik. Jadi kalau untuk member-member DS sih mesti udah maklum dak kebayang deh bagaimana imajinasi dan lamunan saya akibat didikan DS. Di DS, yang saya suka itu baca cerita seru dan kadang-kadang es-lilin.

Balik pada cerita saya, saya pun mulai juga mikirin si Hasan ini, dan menebak-nebak apa yang ada di dalam pikiran dia. Nah, episode yang berikut ini menyadarkan saya apa yang tengah terjadi.

Suatu hari Hasan main ke rumah dan biasa ngobrol dengan Bayu dan saya di ruang tamu. Saya kebetulan minta Bayu pergi untuk beli sesuatu keluar. Walau diajak, Hasan menolak untuk ikut dengan alasan males badan lagi capek. Jadi sambil beresin rumah, saya ngobrol dan bergurau dengan dia. Lagi-lagi terasa betapa intensnya cara dia ngomong ke saya dan juga cara dia memandang.

Sekitar pukul 5 sore, sesuai dengan kebiasaan harian, setelah beres-beres saya mandi. Kebetulan saja saya mandi di kamar mandi dekat dapur, bukan di ruang tidur utama (istilahnya master bedroom). Tiba-tiba selintas saya melihat kelebat bayangan di celah pintu kamar mandi yang retak kecil pada sambungan papan di pintu bagian bawah. Rasanya ada yang mengintip. Kalau ada yang ngintip mungkin bisa keliatan kaki saya bagian bawah sampai lutut dan paha bagian bawah saya. Tapi siapa? Bukankah di rumah hanya ada Hasan, lagi pula dia kan pemuda yang sopan. Ah, mungkin hanya kebetulan. Saya balik lagi meneruskan mandi. Saya bersihkan seluruh tubuh. Tiba-tiba saya melihat lagi bayangan tadi. Ah, ini pasti Hasan. Tetapi hendak apa dia? Apakah dia sedemikian ngebetnya ingin buang air hingga menantiku dengan tidak sabarnya? Tiba-tiba bayangan cerita-cerita di DS menerpa, ah apakah memang dia tertarik pada saya dan menyimpan nafsu tersendiri? Apa ini bukan pertama dia mengintip saya sedang mandi. Atau jangan-jangan dia mengintip saya juga di kamar, atau tempat lain?

Selesai mandi saya lihat Hasan sedang duduk membaca majalah. Saya ke kamar, bukan untuk ganti baju, tetapi hanya menyisir di depan cermin saja. Lagi-lagi saya merasa diperhatikan dari balik pintu yang memang tidak saya tutup. Gerakan Hasan di balik pintu tampak dari cermin saya. Saat saya keluar kamar ternyata Hasan di sofa dan saya yakin dia hanya pura-pura saja baca majalah. Tiba-tiba saya teringat ada janji mau ketemu tetangga di condo, ada titipan dari kawan yang mesti saya ambil. Saya beri tahu Hasan, saya akan ke tempat ibu Susi, dan balik kira-kira sejam, jadi tolong titip rumah.

Sampai di apartemen bu Susi, ternyata terkunci karena sedang ke luar. Wah bisa-bisanya janjian tapi ditinggal pergi begini. Terpaksa saya balik lagi ke rumah, yang semula maunya balik sesudah 1 jam, ini baru 15 menit sudah sampai rumah lagi.

Walau pintu dikunci, saya tau Hasan ada di dalam. Bayu pastilah belum sampai rumah lagi. Saya buka dengan kunci saya sendiri pelan-pelan, dan masuk ke dalam. Karena di ruang tamu tidak ada orang, saya yakin Hasan mesti di kamar Bayu anak saya, mungkin main computer seperti kebiasaan mereka. Di luar pintu kamar, saya mendengar suara menderit-derit krek, krek, krek, berulang-ulang. Saya jadi ingin tahu, saya buka perlahan pintu kamar Bayu. Kamar-kamar di tempat saya memang tidak berkunci, kecuali pintu masuk dan pintu master bedroom. Pintu terbuka sedikit dan saya bisa melihat ke dalam dari celah sempit itu. Dan di dalam Hasan sedang duduk di bangku computer. Celana panjangnya telah turun dan teronggok di lantai dibawah bangku. Celana dalamnya tak tampak lagi. Posisi Hasan menyamping dari saya tapi karena jaraknya yang sangat dekat ke pintu, saya dapat melihat semua dengan jelas.

Sekarang ini mata Hasan tertutup rapat dan bernafas berat, dengan kaki membuka, dan tangannya mencengkeram erat batang anunya yang sedang tegak berdiri. Suara krik krik krik bangku terdengar karena irama tangannya yang mengocok batang keras itu berirama. Selain dari gambar es lilin di internet, selain milik suami, saya tidak melihat lagi lelaki telanjang secara langsung. Dan tiba-tiba sekarang saya melihat pemuda abg yang sedang terangsang berat. Batang tegang Hasan yang tengah dia remas keras-keras itu tampak panjang, kira-kira 12-13 cm berukuran langsing, dan tampak agak melengkung sedikit. Kulit batangnya tampak kemerahan karena Hasan memang putih kulitnya. Kedua kulit kantung telurnya tampak bersih tidak berambut. Ada sedikit rambut halus dan jarang di daerah pubicnya. Saya bisa melihat kepala batangnya berlumuran dengan air mazi bening, dan tampak merah keras berkilat. Dari tempat saya mengintip, saya bisa melihat sedikit pada layar computer dan melihat gambar seorang perempuan bule yang sudah dewasa (ibu-ibu) sedang melakukan oral sex mengisap penis pemuda bule. Batang pemuda bule itu sudah tampak tidak tegang lagi dan diisap seperti lollipop. Muka wanita bule itu berlumuran mani si pemuda. Saya heran, kenapa Hasan onani dengan melihat perempuan dewasa dan bukannya perempuan muda. Tiba-tiba terbukalah pikiran saya. Selama ini Hasan tak menyukai anak perempuan SMA karena dia lebih mengagumi perempuan dewasa. Dan itu sebabnya dia sangat memperhatikan saya.

Terdengar oleh saya, Hasan menggumam sambil terus meremas dan mengocok batangnya. Walau tidak jelas yang dibisikkan, tapi sepertinya dia menggumam,
“Auh tante, jilat terus, remes dan jilat. Isep sampai Hasan keluar mani tante”.

Saya kurang pasti, apa yang dikatakan, karena memmang nggak jelas. Saya lihat pinggulnya mulai naik turun di atas bangku yang diduduki. Sebagai wanita dewasa yang sudah berpengalaman, saya tahu dia mesti sudah hamper-hampir memancurkan air maninya. Saya rasa sedikit tak enak hati mengintip macam ini, tapi saya tidak sanggup untuk mengalihkan pandangan mata saya dari batangnya yang merah dan basah ujungnya karena remasan-remasan yang kencang itu. Saya merasa daerah kemaluan di antara kedua paha saya mengecup-kecup dan kegatalan muncul di daerah itu. Saya yakin, kebasahan mulai terjadi di sana. Sama dengan efek yang terjadi masa saya membaca cerita di DS.

Hasan mulai terdengar mengerang keras. Dia onani dan berfantasi dengan bebas tak menyangka kalau saya sudah balik ke rumah dan menyaksikan pemandangan yang indah ini.
Erangannya terdengar jelas, “Ya ya tante, isep air maninya, isep kepala kontolku tante, isep airnya ….. ahhhh…”.
Sambil mengerang demikian, tiba-tiba dia muncrat dan memancar aliran ke atas. Pancrutan itu naik ke atas dan akhirnya jatuh lagi memancur ke bawah mengenai seluruh bagian perut dan daerah kemaluannya. Saya tidak pernah melihat pancrutan air mani yang demikian kencang. Tapi memang ini pertama kali saya melihat onani abg yang sedang mengeluarkan air maninya.

Saat itu saya sudah panas dingin, kepala saya terasa mengambang. Meki saya terasa berdenyut dengan kegatalan yang melanda. Saya juga merasa bagian dalam lubang kenikmatan saya mulai mengembun dan menerbitkan kebasahan yang sangat. Tetapi pemandangan yang saya saksikan tak membuat saya beranjak pergi.

Luar biasa sekali, walau telah mengeluarkan air mani, batang Hasan tak juga menyurut lunak. Batang itu masih tampak keras dan diselimuti oleh kebasahan mani dan mazi yang ditumpahkan. Hasan masih mengurut-urut lembut batangnya. Dia tampak merubah gambar di layar komputer, dan kini terpampang gambar lain lagi. Seorang pemuda Cina (atau Jepang) berbaring, dan seorang wanita dewasa (Jepang juga atau Cina) jongkok di atasnya dan memposisikan mekinya dan anusnya di atas muka pemuda yang tampaknya seperti sedang menjilati. Bagian mulut dan hidung pemuda tadi tampak tenggelam di dalam kerimbunan rambut memek si wanita. Sambil jongkok wanita tadi yang tampak sedang kenikmatan, juga memegang batang kemaluan pemuda tadi.

Kembali Hasan mengocok batangnya yang berlumuran mani itu. Batang itu sama sekali tidak mereda kekerasannya, panjangnya tetap tegar sepanjang 13 cm. Dan tampak berkilat karena cairan putih yang menyelimuti. Kepala batangnya tampak semakin merah. Hasan mengocok sambil menjilati bibirnya, sedikit mani ia oleskan dari batangnya ke bibir.

Sambil terus mengocok dan mengecap bibir Hasan mengerang “Gimana jilatan Hasan tante..? Enak tante? Aduh ah Hasan mau liat memek tante? Jembutnya lebat mesti ya punya tante…? AH kocok juga punya ku tante?”

Saya panas dingin dan tak kuasa menahan birahi, sedemikian dahsyat imajinasi pemuda ini. Sampai-sampai dia membayangkan meki saya seperti apa. Tak terasa jari-jari saya sudah menyelinap masuk ke dalam celana dalam. Kebasahan yang sangat terasa di sana. Jariku mulai membelai lipat-lipatan bibir bawah, menyebarkan kebasahan kearah kelentit yang terasa sangat sensitive dan gatal. Sambil jari tengah menggosok-gosok dan menekan celah-celah bibir bagian dalam meki, jempolku menekan dan menggosok-gosok batang kelentit.

Birahi saya tak terbendung lagi. Kegatalan itu terus memuncak menimbulkan kenikmatan yang sangat di bagian dalam lubang memek. Saya terus onani sambil memandang onani yang tengah dilakukan Hasan. Bau air mani terasa kuat dari batang berlumuran yang terus dikocok kencang. Puncak kenimmatan Hasan dan saya datang hamper bersamaan. Saya mesti menutup mulut saya dengan tangan takut erangan dan desisan keluar dari mulut saya. Ledakan nikmat melanda, dan badan saya kaku sejenak menikmati terpaan-terpaan rasa nikmat bersumber dari dalam sepanjang lubang kenikmatan saya, menuju kelentit dan meyebarkan kenyamanan di seluruh tubuh. Terasa cairan merembes keluar dari dalam lubang saya. Ah kenikmatan yang luar biasa.

Disusul kemudian oleh Hasan yang tampak badannya menegang “Ah remes tante batang Hasan…”, membayangkan aksi seperti di layar komputer.
“Ah …. eh….”, dan kemudian tampak cairan sperma merembes ke luar dari lubang di ujung batangnya. Ada juga puncratan, tetapi tak sebanyak dan sekeras tadi.

Saya buru-buru dengan perlahan ke luar dari rumah, menguncinya dari luar dan berdiri di luar pintu menenangkan diri. Saya turun dengan lift ke lantai bawah dan duduk di bawah untuk menenangkan diri. Untung juga saya tak menjumpai orang yang saya kenal. Saya mesti tampak pucat. Walau orang tak tahu, saya merasa pangkal paha saya lengket karena cairan meki yang keluar tadi sudah melai mengering.

Sesudah ada lima menitan di bawah saya naik lagi ke atas. Memencet bel di pintu. Agak lama menunggu, akhirnya Hasan membuka pintu dari dalam.
“Ah tante sori lama, tadi Hasan pas lagi di kamar mandi”, katanya nyengir sambil muka dia agak terlihat pucat. Ini mesti pucat karena capek onani tadi, saya mengatakan di dalam hati.
“Sudahlah biar, tapi tante capek, mau istirahat”, saya cari alasan masuk ke kamar, takut dia melihat ada perubahan-perubahan penampilan saya.
Hasan juga pamit pulang karena sudah terlalu lama di apartemen saya.


Cerita Dewasa Bergambar | Merasakan Wanita ONANI Di Rumahku. Di ranjang saya berbaring letih. Peristiwa tadi benar-benar mengganggu, baik fisik maupun mental. Saya mulai berpikir, mungkin Hasan telah lama onani demikian sambil membayangkan saya. Semua erotisme yang terjadi tadi terus bermain di benak saya. Tapi kenikmatan dan ketegangan itu tak dapat meninggalkan pikiran saya. Apakah benar yang saya lakukan, kenapa saya malah menikmati peristiwa tadi, dan bukannya tersinggung dan marah. Mungkin terlalu banyak baca cerita erotik telah merubah saya.

Ah sudahlah, biarkan yang telah terjadi tetap terjadi. Saya tak tahu bagaimana nanti kalau berjumpa lagi dengan Hasan setelah melalui peristiwa ini dan tahu apa yang dipikirkan Hasan tentang saya. Biarlah itu urusan nanti.

Read more »»  

Cerita Dewasa | Riri Abg Smp Yang Mantabz


Cerita Dewasa | Riri Abg Smp Yang Mantabz | Cerita Deawasa. Sebelumnya kuperkenalkan dulu siapa diriku. Namaku Nunu, seorang mahasiswa semester pertama di universitas JS di kota P dan nama pacarku Rirrie, sekolah di SMU Negeri 1 kelas III di kota P juga. Wajahnya cantik walaupun tidak secantik bintang sinetron, manis tepatnya. Punya alis mata yang hitam tebal yang sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Dengan hidung yang mungil lucu plus
bibir "dower" yang selalu merah dan dihiasi dengan gigi yang sedikit tidak teratur tetapi justru giginya itu yang menjadi daya tariutamanya. Tingginya sekitar 155 cm, berat 47 kg. Badannya mungil tapi montok. Bahu yang datar dan badan yang tegap dihiasi dengan sepasang payudara indah berukuran 32B yang proporsional sekali dengan tubuhnya. Pantat yang terbentuk rapi disertai sepasang kaki yangindah, terutama betisnya. Pinggang yang ramping, perut yang datar dan pinggul yang tidak terlalu besar. Tapi sungguh, dengan keadaan tubuh seperti itu, tidak ada pria yang bisa menahan napsunya jika melihatnya sedang telanjang bulat. Tentu saja.Kejadian ini kualami kalau tidak salah hari Kamis tanggal 7 Desember1998. Aku barus saja menjemputnya pulang sekolah jam setengah dua siang. Biasanya sich dia bawa motor sendiri, cuman hari itu entah kenapa dia berangkat sekolah naik becak. Jadinya saat pulang sekolah dia menelponku minta dijemput. Panas sekali hari itu. Saat sampai di rumahnya aku tidak langsung pulang. Aku mampir sejenak buat sekedar menghilangkan rasa haus. Aku duduk di ruang tamu, di sofa yangpanjang, sementara dia mengganti baju sekolahnya dengan gaun santai. Entah model apa bajunya, yang jelas dia memakai kaos dengan celana pendek yang berbahan kaos juga. Dia tampak seksi sekali dengan dandanan seperti itu. Dia balik sambil membawa segelas sirup dingindan kemudian tiduran di sofa dengan posisi kepalanya di pangkuanku.

Kami pun berbasa-basi, saling menanyakan kabar masing-masing. Karena memang kita sudah lama tidak ketemu. Aku barusan pulang dari Jogja, tinggal di sana beberapa hari. Dia orangnya memang gampang sekali kangen sama pacarnya. Ditinggal beberapa hari saja sudah sepertisebulan hebohnya. Dan kalau dia sedang kangen, rugi aku kalau tidak ada di sisinya. Tau maksudnya kan?

Lalu kami mulai bercerita tentang kegiatan kami masing-masing selama ini sambil sesekali saling mencumbu, berciuman dan berpagutan mesra. Saling memainkan lidah. Kubiarkan mulutnya melumat bibirku. Kubiarkan giginya menggigit lembut bibirku. Kurasakan lidahnya menari-nari di dalam mulutku. Napasnya yang lembut mendera wajahku. Oh ya, aku paling suka "kissing" dengannya saat dia sedang makan coklat. Rasanya jadi tambah enak. Dan seperti biasa kalau kami sedang berasyik
masyuk, kedua belah tanganku selalu menari-nari di tubuhnya. Selalu! Orang dianya sendiri yang minta buat dijamah. "Pokoknya kalau kamu sedang mencumbuku, sekalian dech tangan kamu ngerjain tubuhku. Biar tidak nanggung. Tapi harus di bagian yang sensitif. Seperti di daerah
sini, sini dan di sini!" katanya kepadaku suatu waktu sambil
tangannya menunjuk leher, dada dan bawah perutnya. Enak katanya. Akunya sich oke-oke aja. Siapa yang bakal menolak ditawarin kerjaan seperti itu.


Mulailah pekerjaanku. Kudekatkan kepalaku ke lehernya, kukecup perlahan leher itu kemudian kugigit perlahan. Dia mendongakkan kepalanya tanda dia merasa kegelian. Kucium daerah telinganya dan kukulum bagian telinga yang menggelambir. Dia mendesah perlahan dan
kemudian melingkarkan kedua tangannya ke leherku. Tangan kananku pun berusaha menopang punggungnya agar tubuhnya sedikit tegak dan tangan kiriku segera kumasukkan ke balik bajunya, mengakibatkan kaosnya terangkat sampai ke perut. Tanganku menyentuh kulitnya yang halus. Menyusup ke punggungnya untuk melepas tali BH-nya. Dan mulailah tanganku menjelajahi bukit barisan itu. Kuremas payudaranya, terasa lembut sekali, diapun merintih. Kupilin putingnya, dia mengerang.
Kutarik puting itu dan diapun mendesah. "Ahh..!" Kuputar-putar jariku di sekitar puting itu "Sshhh..!" Dia mengerang merasakan kenikmatan itu. Kuremas-remas buah dada itu berulangkali, kucubit bukit itu. Rasanya kenyal sekali. Nggak bakalan bosan walaupun tiap hari aku disuruh menyentuhnya.

Lalu tanganku pun turun menyusuri perutnya, menuju hutan tropis. Masuk ke dalam celana dalamnya yang terbuat dari kain satin dengan sedikit renda pada bagian vaginanya. Kutemukan tumpukan kecil daging yang ditumbuhi rambut-rambut halus. Kugunakan jari telunjuk dan jari manisku untuk membelah labianya yang masih terasa liat sementara jari tengahku kumasukan sedikit ke dalam liang senggamanya. "Mmhhh..." Dia kegelian. Kedua kakinya nampak terjulur lurus, sedikit menegang.
Kucari seonggok daging kecil diantaranya. Bagian yang mampu mengantarkan seorang wanita merasakan apa arti hidup yang
sesungguhnya. Setelah kutemukan mulai tanganku memainkannya. Kusentuh klitoris itu lembut sekali, namun akibatnya sungguh luar biasa.
Tubuhnya menggelinjang hebat dengan kedua kaki terangkat ke atas menggapai-gapai di udara. Dia melenguh dengan mata terpejam dan lidah yang menjilati bibirnya. Langsung kulumat mulutnya. Dia pun membalas dengan ganas. "Uuhhhh..." Lalu tangan kiriku berusaha menarik
klitorisnya, kupencet, kusentil, kupetik, kugesek dengan jari tengahku. Dia memang paling suka disentuh klitorisnya. Dan kalau
sudah disentuh, bisanya seperti orang sakau. Mendesah, mengerang, dan menggigil.


Pernah suatu ketika aku ditelpon supaya datang ke rumahnya cuma untuk "memainkan" klitorisnya. Ya, ampuun... setelah puas bermain api, kami pun mencari air untuk menyiramnya. Ehh.. sorry, ngelantur. Tak lama kemudian dia mengajakku ke lantai dua.


"Mas, naik ke atas yuk?" "Mo ngapain?" tanyaku.
"Ke kamarnya Mbak Dian, di sini panas. Ada AC di sana." "Boleh!" aku setuju.


Kami pun naik ke lantai dua. Satu persatu anak tangga itu kami lewati
dan kami pun masuk ke kamar Mbak Dian. Aku langsung tiduran di tempat tidur, sementara dia menyalakan AC-nya. Lalu dia rebah di sampingku. Kami bercerita lagi dan bercumbu lagi. Kali ini kulepas kaosnya,
setumpuk daging segar menggunung di dadanya yang tertutup BH semi transparan seolah ingin melompat keluar. Waw, menantang sekali dan kemudian dengan kasar kusentakkan BH itu hingga terlepas, lalu terhamparlah pemandangan alam. Nampak Sindoro Sumbing yang berjejer rapi. Bergelanyut manja di dadanya. Putingnya yang berwarna coklat kemerahan kokoh tegak ke atas mengerling ke arahku menantang untuk kunikmati. Payudaranya betul-betul indah bentuknya, terbungkus kulit

kuning langsat tanpa cacat sedikitpun, yang tampak membias jika terkena cahaya, yang menandakan payudara itu masih sangat kencang. Maklum payudara perawan yang rajin merawat tubuh. Namun dengan payudara seperti itu, jangankan menyentuh, cuma dengan memandangnya saja kita akan segera tahu kalau payudara itu diremas akan terasasangat lembut di tangan.

Kudekatkan wajahku ke dadanya. Mulutku kubuka untuk menikmati kedua payudaranya. Bau harum khas tubuhnya semerbak merasuk ke dalam hidungku. Kuhisap salah satu putingnya, kugigit-gigit kecil. Lidahku bergerak memutar di sekitar puting susunya. Dia mengejang kegelian. Menjambak rambutku dan ditekankan kepalaku ke dadanya. Wajahku terbenam di sana. Kugigit sedikit bagian dari bukit itu dan kusedot
agak keras. Nampaklah tanda merah di sana. Puas kunikmati dadanya, mulailah ada hasrat yang menuntut untuk berbuat lebih. Tampak juga di wajah Rirrie. Matanya menatapku sayu. Wajahnya memerah dan napasnya memburu. Kalau dia dalam keadaan seperti ini, dapat dipastikan diasedang terangsang berat. Dan aku yakin kemaluannya pasti sudah basah.

Aku bertanya padanya, "Rie, sekali-kali kita ngewek yuk!" "Ah, tidak mau ah!" dia menolak.
"Kenapa?" tanyaku. "Aku malu," jawabnya.
"Malu sama siapa?" tanyaku lagi.
"Aku malu diliat bugil. Aku malu kamu liat anuku." terangnya.
"Lho, kamu ini aneh. Masa hampir tiap hari kupegang memek kamu, cuma ngeliat malah tidak boleh?" tanyaku keheranan.
"He.." dia tertawa manja. Otakku bekerja mencari akal.
"Atau gini aja, kamu ambil selimut buat nutupin tubuh kamu. Ntar kita
cari gaya yang bikin memek kamu nggak keliatan," usulku sembarangan, nggak taunya dia setuju.
"Iya dech Mas"
Aku girang setengah mati. Lalu dia pun turun ke bawah mengambil selimut. Tak lama kemudian dia sudah ada di hadapanku lagi dengan sebuah selimut batik di tangannya. Lalu selimut itu diserahkannya kepadaku.

"Nah, sekarang kamu lepas semua pakain kamu!" perintahku.
Dia pun segera melepas semua pakaiannya. Sungguh anggun cara dia melepas pakaian. Perlahan namun pasti. Apalagi saat dia mengangkat

kedua tangannya untuk melepas penjepit rambut yang menyebabkan rambutnya terurai indah menutupi sebagian pundaknya. Oh, cantik sekali dia. Berdiri telanjang tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya. Layaknya seorang bidadari. Dengan payudara yang kencang mengantung indah, dengan bulu halus yang tertata rapi menghiasi bagian bawah perutnya. Dan ketika sadar dirinya telanjang bulat, secepat kilat dia merampas selimut yang ada di tanganku dan digunakanya untuk menutupi tubuhnya. Kusuruh dia untuk naik ke atas tempat tidur dalam posisi merangkak membelakangiku. Aku segera
melepas seluruh pakaianku. Dia menengok ke belakang dan tak sengaja menatap penisku yang sudah tegang berat dan langsung memalingkan wajah. Jengah. Sambil merajuk manja. "Ihhh..."

Walaupun kami sering bercumbu tapi kami belum pernah saling mempertontonkan alat vital masing-masing. Kalau saling pegang atau sekedar nyentuh sich sering. Makanya jangan heran kalau dia jengah waktu melihat penisku. Dan lagi dia itu orangnya pasif.
Penginnya "dikerjain" melulu, tapi kalau disuruh "ngerjain" suka ogah- ogahan. Padahal sebenarnya dia senang sekali kalau disuruh memegang penisku. Tapi itulah dia, dia yang seorang Rirrie yang penuh dengan
tanda tanya. Yang aku pun masih suka bingung untuk mengikuti jalan pikirannya.

Aku pun segera mendekat membawa seluruh amunisi yang kupunya. Siap dalam duel berdarah. Kuangkat sedikit selimut yang menutupi pantatnya dan harum birahi yang amat kusukai dari vaginanya menyebar. Tanganku pun masuk ke balik selimut itu. Mencari daerah jajahan yang harus dikuasai. Meraba-raba sampai akhirnya kutemukan gundukan itu. Terasa benar bulu kemaluannya di jariku.

"Aowww... iiihhh! Mas nakal!" Dia protes ketika aku berusaha mencabut beberapa helai bulu kemaluannya. Sebelumnya buat para pembaca, aku melakukan ini semua tanpa melihat ke arah vaginanya. Bayangkan, bagaimana sulitnya. Soalnya aku belum pernah menatap langsung vagina sekarang ini. Mulai kupusatkan perhatianku di daerah selangkangannya. Vaginanya terasa basah. Pasti dia sudah sangat terangsang. Dan kucari letak lubangnya dengan jariku.


"Ah, geli Mas!" dia tersentak ketika tak sengaja tanganku menyentuh klitorisnya.
"Hore ketemu...!!!" aku teriak kegirangan.

Akhirnya kutemukan lubang itu. Kumasukkan seperempat jari telunjukku ke dalam vaginanya. Sebentar kuputar-putar disana. Pinggulnya bergerak-gerak tanda dia kegelian. Lalu kutarik kembali dan kini
pelan-pelan kusorongkan rudalku untuk mencoba menembus dimensi itu. Saat pertama penisku menyentuh vaginanya, secara refleks dia mengatupkan kedua kakinya.

"Dasar perawan.." kataku di dalam hati.
Lalu perlahan kucoba merenggangkan kakinya. Terasa ada penolakan halus disana.
"Ayo dong sayang, direngganging sedikit kakinya. Katanya pengen di entotin."
Dia nurut, perlahan dia mulai mengangkangkan kedua kakinya. Rudalku pun kembali mencari sasarannya. Mulai menempel di bibir vaginanya. Terasa hangat di situ.


"Aduh Mas, aku deg-degan nich" "Udah kamu tenang aja dech!"
Perlahan tanganku mencoba untuk membuka tabir itu. Kugunakan jemari tanganku untuk menguak vagina itu. Sedikit terbuka. Dan kucoba memasukkan penisku. "Bless!" Kepala rudalku mulai masuk, membuat Rirrie mengerang kesakitan, membuatnya sedikit tidak nyaman.

"Aduh, Mas, sakit nich!" dia merintih.
Kepalanya mendongak ke atas dengan mimik menahan rasa sakit. "Tahan sebentar ya sayang! Sakitnya paling cuma sebentar kok." Kasihan juga sich melihat dia begitu. Tapi demi kenikmatan itu apa boleh buat.
Namun saat kepala rudalku mulai menguak masuk vaginanya, terasa ada energi yang sangat kuat dari dalam vaginanya mencoba untuk menyedot penisku agar masuk ke dalam vagina itu. Sampai pinggulku tertarik
maju membuat seluruh penisku melesak ke dalam lubang itu. "Sleep..."

"Ah, Mas sakit nich!" "Tapi kok enak ya Mas?"
"Makanya kalo pengen lebih enak jangan ribut terus!" kataku.
"Enak tapi kok aneh ya Mas? Kayak ada yang ngganjel," dia ngomong sekenanya.
Aku pun tertawa.
"Kamu santai aja dong, jangan tegang gitu."

Dia menuruti perintahku. Dan sensasi yang belum pernah kami rasakan mulai meresap di diri kami. Penisku rasanya seperti diremas-remas lembut sekali oleh suatu benda asing yang hangat dan basah tak dikenal, disedot-sedot oleh vaginanya. Duh.. nikmatnya luar biasa. Mataku sampai nanar menahan kenikmatan itu. Lembab namun terasa sangat nyaman. Mulai kugerakkan maju mundur pinggangku, kugenjot penisku perlahan dan kemudian sedikit demi sedikit kupercepat genjotanku, kadang-kadang kupelankan sambil kubenamkan sedalam- dalamnya ke lubang vaginanya sampai dia menjerit, "Mas.. Mas aduh yang ini sich enak banget.. tusuk lagi dong yang keras Mas!" Rirrie memohon.

Langsung saja kuturuti permintaannya. penisku bergesekan dengan dinding vaginanya yang membuahkan kenikmatan tersendiri bagi kami. Mengakibatkan bunyi berdecak yang mengiringiku menuju sejuta kenikmatan.


Tidak lama kemudian Ririe mendesah hebat sambil badannya bergerak ke sana-kemari, cepat sekali, badannya meliuk-liuk, tangannya meremas- remas sprei tempat tidur hingga acak-acakan.
"Uuuhh.. enak sekali Mas.. pelanin dong nyodoknya," rintih Rirrie. Kuturuti kemauanya.
"Uh!" nikmat sekali rasanya.

Kupompa perlahan-lahan sambil kunikmati kenikmatan yang menjalar ke seluruh tubuhku. Sebentar-sebentar dia menggoyangkan pinggulnya, seolah-olah ingin agar penisku juga merasakan kenikmatan itu. Kedua belah tanganku bergerak kesana kemari menjelajahi bagian belakang
tubuhnya. Kujambak rambutnya dan kudongakkan kepalanya. Kubungkukan badanku lalu kuciumi punggungnya. Kujilati leher itu. Kutampar
perlahan pantat Rirrie. Dia menjerit kecil. Tanganku pun mengarah ke
depan menyambar payudaranya yang menggelantung tak berdaya. Manggut- manggut mengikuti gerakan badannya. Membuatku semakin horny. Payudaranya terasa lebih keras dari biasanya. Mungkin karena dia
sedang dalam kondisi terangsang puncak.

Kuremas-remas dengan kasar. Kupilin-pilin putingnya dan, "Plop..." ya ampun puting itu terlepas. Rambutnya yang panjang melambai-lambai mengikuti irama genjotanku. Matanya terlihat amat sayu dan sebentar- sebentar terpejam. Hingga akhirnya...

"Adduuhh.. Rirrie tidak kuat lagi Mas.." "Rirrie pengen pipis.."
"Masss.. aaakhh.."

Kurasakan dia menekan vaginanya sedalam mungkin sambil menggoyang- goyangkan pinggulnya dan mengatupkan kedua kakinya yang membuat penisku semakin keras terjepit. Namun sungguh, tindakannya justru
makin menambah nikmat gesekan yang kurasakan. Tubuhnya tersentak dan berdiri tegak membelakangiku. Kepalanya disandarkan di bahuku.

"Masss.. enak sekalii.. Hmmm.."
Lalu kulihat kepalanya mendongak ke atas dan kedua bola matanya membalik seperti orang kesurupan. Tangannya bergerak ke belakang memeluk tubuhku. Dan menekan kuat tubuhku seolah ingin menyatukan dengan tubuhnya. Intensitas denyutan vaginanya semakin tinggi dan kekuatan menyedotnya pun bertambah besar. Yang menyebabkan penisku terasa semakin tertarik di liang senggamanya. Kupercepat lagi
genjotanku. Dan akhirnya...

"Ohhh... aaakhhh.. ouch... Mas enak!"
Teriakannya keluar seiring orgasme yang dicapainya. "Seerrr..." cairan bening pun keluar membasahi liang senggamanya. Banjir. Kurasakan suhu di sekitar situ bertambah panas. Sekian lama berlalu tapi Rirrie masih terus memejamkan matanya dan menekan kuat pinggulnya. Menggerak-gerakannya kekiri dan kekanan. Mencoba untuk
menyerap segala kenikmatan yang baru pernah dirasakanya. Dia meracau tak karuan. Saat orgasme yang dialaminya berakhir, dia pun terkulai
lemas. Menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan mata terpejam. Dalam posisi nungging. penisku terlepas dari vaginanya. Tubuhnya bermandikan keringat. Semakin menambah pesona kecantikan tubuhnya. Tak sengaja aku melihat daerah selangkangannya. Ternyata bentuk vaginanya bagus sekali.

Vaginanya yang berwarna merah jambu nampak merekah sedikit monyong dan labia minora-nya nampak sedikit menjorok keluar. Mungkin karena
tadi rudalku berkali-kali membombardir pertahanannya. Vagina itu berdenyut-denyut dan berkilat terkena cahaya. Sedikit darah keluar
dari dalam vaginanya perlahan turun mengalir ke pahanya. Ternyata dia masih benar-benar perawan. Kubiarkan dia untuk mengatur detak
jantungnya. Agar mampu menghimpun kembali energi yang secara mendadak

dikeluarkannya. Sepertinya dia agak shock. Maklum, pengalaman pertama.

"Mas... yang barusan itu enak sekali." Dia berbisik sambil menatapku dengan senyum kecil di sudut bibirnya. Senyum penuh kepuasan. Lalu kurebahkan tubuhnya sehingga dia dalam posisi tengkurap tidur, aku pun merebahkan tubuhku menindih punggungnya. Tanganku bergerak kembali ke arah selangkangannya. Becek sekali di sana. Kucari kembali letak liang senggama itu.

"Ayo sayang buka kembali surga kamu," pintaku.
Perlahan dia mengangkangkan kembali kedua kakinya. Dan kini giliranku untuk memetik kemenangan itu. Begitu melihat Rirrie membuka sedikit saja selangkangannya, semangatku langsung membara lagi. Kuambil ancang-ancang untuk memasukkan kembali penisku. Satu.. dua.. tiga.. dan, "Bleess..." dengan mudahnya penisku menembus vaginanya. Tanpa permisi dan karena sudah tidak sabar langsung kugenjot dengan kecepatan tinggi. Tak lama kemudia kurasakan seluruh urat nadiku menegang dan darah mengalir ke satu titik. Aku akan mencapai orgasme.

"Rie, Mas mau keluar nich.." "Gantian Ya?"
"Iya Mas, dienak-enakin lho!"
Rirrie berkata sambil kembali mengatupkan kedua kakinya. Terasa dia sedikit mengejan untuk memberi kekuatan di daerah perutnya yang mengakibatkan otot-otot di sekitar vaginanya kembali mencengkeram kuat. Semakin kupacu genjotanku dan akhirnya pada saat akan terjadi titik kulminasi kuangkat tubuhku dan kutarik penisku keluar dari vaginanya dan langsung kubalikan tubuh Rirrie dan kuraih tangan kanannya lalu kusuruh dia mengocok penisku. Kutarik kepalanya mendekati penisku. Penisku seperti dipompa sampai bocor. Air maniku
pun menyembur kencang dalam genggaman tangannya. Mengenai wajahnya. Aku melenguh. Kulihat air maniku menetes di sprei tempat tidur. Air
maniku sepertinya tidak mau berhenti. Tanganya yang lembut terus mengurut penisku dengan cepat, mengusap-usap kepala rudalku dengan ibu jarinya. Sampai air mani terakhir menetes di tangannya. Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa. Sampai terasa ke tulang sumsum.

"Enak Mas?" tanya Rirrie. Aku mengangguk.
"Belum pernah aku merasakan yang se.pertii.. ini," jawabku terbata- bata.

Cerita Dewasa | Riri Abg Smp Yang Mantabz. Aku merasa tubuhku lelah sekali. Lemas tak berdaya. Rirrie mendekatkan wajahnya ke rudalku, dan dengan sangat-sangat lembut dikecupnya kepala rudalku berkali-kali sambil berkata, "Kamu benda kecil tapi bisa bikin orang gede kepayahan."
Aku tersenyum mendengar ucapannya. Rirrie memandangku dengan mesra sambil menebarkan senyum penuh pesona. Aku langsung roboh di atas tubuhnya. Menindih tubuhnya. Kugigit perlahan lehernya. Kujilat
dagunya. Kukecup lembut bibirnya. Rirrie memeluk aku sambil mengecup lembut pundakku.

"Mas kapan-kapan kita ngewek lagi ya Mas?" pintanya.
"Iya sayang. Suatu saat kita bakal ngewe lagi.. Kita cari gaya yang lainnya," jawabku perlahan.
"Sekarang Mas pengen bobo dulu. Mas kecapean nich," aku memohon. "Iya dech Mas," balasnya.
"Mas.. Rirrie tambah sayang dech sama Mas."
Dan aku pun mendapatkan ciuman paling hangat di bibir dalam sejarahku bersamanya. Lalu tangannya turun ke bawah memegang penisku yang sudah lembek dan meremas-remasnya dengan lembut sampai dia terlelap. Kemudian kupeluk tubuhnya, kukecup keningnya lembut dengan berjuta perasaan yang ada. Dengan sisa kekuatan yang ada, kuangkat badanku
dan balik posisi badanku hingga kepalaku berada di antara selangkangannya. Kukecup lembut vagina itu. Kujilat sedikit lendir yang membasahinya. Kunikmati sebentar pesona vaginanya dengan
mulutku. Lalu akupun memejamkan mata. Kami pun tertidur meninggalkan senyum kepuasan di bibir kami.

Read more »»