Jumat, 01 Februari 2013

Cerita Dewasa - Besarnya Tongkat Pak Satpam


Cerita Dewasa - Besarnya Tongkat Pak Satpam - Juragan ABG Tubuhku semakin merinding dan kurasakan seluruh bulu romaku berdiri saat jilatan lidah Pak Marsan yang panas menerpa tulang belakangku. Tubuhku didorong Pak Marsan hingga tengkurap di atas meja makan dekat dapur yang kokoh karena memang terbuat dari kayu jati pilihan. Saat itulah tiba-tiba salah satu tangan Pak Marsan beralih menyingkap gaunku dan meremas kedua buah pantatku. Aku semakin terangsang hebat saat tangan Pak Marsan yang kasar menyusup celana dalam nylonku dan meremas pantatku dengan gemas.

Sesekali jarinya yang nakal menyentuh lubang anusku. Gila..!! Benar-benar lelaki yang kasar dan liar. Tapi aku senang karena suamiku biasanya memperlakukanku bak putri saat bercinta denganku. Ia selalu mencumbuku dengan lembut. Ini sensasi lain..!! Kasar dan liar.. Apa lagi samar-samar kucium aroma keringat Pak Marsan yang berbau khas lelaki! Tanpa parfum.. Gila aku jadi terobsesi dengan bau khas seperti ini. Hal ini mengingatkanku pada saat aku bermain gila dengan Pak Sitor di kepulauan dahulu.

"Akhh.. Pakk.. Marsannhh jangg.. Anhh" desahku antara pura-pura menolak dan meminta. Ya harus kuakui kalau aku benar-benar rindu pada jamahan lelaki kasar macam Pak Marsan.

Pak Marsan yang sudah sangat bernafsu sudah tidak mempedulikan apa-apa lagi. Dengan beringas dan agak kasar digigitnya punggungku di sana-sini sehingga membuat aku menggeliat dan menggelepar seperti ikan kekurangan air. Apalagi saat bibirnya yang ditumbuhi kumis tebal seperti kumisnya Pak Raden mulai menjilat-jilat pantatku.

"Akhh.. Pakk.. Akhh.. Jang.. Akhh" kepura-puraanku akhirnya hilang saat dengan agak kasar mulut Pak Marsan dengan rakusnya menggigiti kedua belah pantatku!!

Luar biasa sensasi yang kurasakan saat itu. Pantatku bergoyang-goyang ke kanan dan kiri menahan geli saat digigit Pak Marsan. Mungkin kalau disyuting lebih dahsyat dibanding goyang ngebornya si Inul yang terkenal itu.

"Emhh.. Pantat ibu indahh.." kudengar Pak Marsan menggumam mengagumi keindahan pantatku. Lalu tanpa rasa jijik sedikitpun lidahnya menyelusup ke dalam lubang anusku dan jilat sana jilat sini.
"Ouch.. Shh.. Am.. Ampunnhh" aku mendesis karena tidak tahan dengan rangsangan yang diberikan lelaki kasar yang sebenarnya harus menghormati kedudukanku di kantor. Aku benar-benar pasrah total.

Liang vaginaku sudah berkedut-kedut seolah tak sabar menanti disodok-sodok. Rangsangan semakin hebat kurasakan saat tiba-tiba kepala Pak Marsan menyeruak di sela-sela pahaku dan mulutnya yang rakus mencium dan menyedot-nyedot liang vaginaku dari arah belakang. Secara otomatis kakiku melebar untuk memberikan ruang bagi kepalanya agar lebih leluasa menyeruak masuk. Aku sepertinya semakin gila. Karena baru kali ini aku bermain gila di rumahku sendiri. Tapi aku tak peduli yang penting gejolak nafsuku terpenuhi titik!

"Ouch.. Shh.. Terushh.. Ohh Pak Marsanhh" dari menolak aku menjadi meminta! Benar-benar gila!!

Pantatku semakin liar bergoyang saat lidah Pak Marsan menyelusup ke dalam alur sempit di selangkanganku yang sudah sangat basah dan menjilat-jilat kelentitku yang sudah sangat mengembang karena birahi. Aku merasakan ada suatu desakan maha dahsyat yang menggelora, tubuhku seolah mengawang dan ringan sekali seperti terbang ke langit kenikmatan. Tubuhku berkejat-kejat menahan terpaan gelora kenikmatan. Pak Marsan semakin liar menjilat dan sesekali menyedot kelentitku dengan bibirnya hingga akhirnya aku tak mampu lagi menahan sahwatku.

"Akhh.. Pak Marsannhh akhh.." aku mendesis melepas orgasmeku yang pertama sejak seminggu kepergian suamiku ini. Nikmat sekali rasanya.

Tubuhku bergerak liar untuk beberapa saat lalu akhirnya terdiam karena lemas. Napasku masih memburu saat Pak Marsan melepaskan bibirnya dari gundukan bukit di selangkanganku. Lalu masih dengan posisi tengkurap di atas meja makan dengan setengah menungging tubuhku kembali ditindih Pak Marsan. Kali ini ia rupanya sudah menurunkan celana dinasnya karena aku merasakan ada benda hangat dan keras yang menempel ketat di belahan pantatku. Gila panas sekali benda itu! Aku terlalu lemas untuk bereaksi.

Beberapa saat kemudian aku merasakan benda itu mengosek-kosek belahan kemaluanku yang sudah basah dan licin. Sedikit demi sedikit benda keras itu menerobos kehangatan liang kemaluanku. Sesak sekali rasanya. Mungkin apa yang kubayangkan tadi benar!! Karena selama ini aku belum pernah melihat ukuran, bentuk maupun warnanya! Tapi aku yakin kalau warnanya hitam seperti si empunya!!

Aku kembali terangsang saat benda hangat itu menyeruak masuk dalam kehangatan bibir kemaluanku.

"Hkk.. Hh.. Shh.. Mem.. Mekhh Bu.. Ren.. Ni benar-benar legithh.." Gumam Pak Marsan di sela-sela napasnya yang memburu.

Didesakkannya batang kemaluannya ke dalam lubang kemaluanku. Ouhh lagi-lagi sensasi yang luar biasa menerpaku. Di kedinginan malam dan terpaan deru hujan kami berdua justru berkeringat.. Gila.. Pak Marsan menyetubuhiku di ruang makan di mana aku biasanya sarapan pagi bersama suamiku! Gaunku tidak dilepas semuanya, hanya disingkap bagian bawahnya sedangkan celana dalam nylonku sudah terbang entah kemana dilempar Pak Marsan.

"Ouhh Pak Marsann.. Ahh" aku hanya mampu merintih menahan nikmat yang amat sangat saat Pak Marsan mulai memompaku dari belakang!

Dengan posisi setengah menungging dan bertumpu pada meja makan, tubuhku disodok-sodok Pak Marsan dengan gairah meluap-luap. Tubuhku tersentak ke depan saat Pak Marsan dengan semangat menghunjamkan batang kemaluannya ke dalam jepitan liang kemaluanku! Lalu dengan agak kasar ditekannya punggungku hingga dadaku agak sesak menekan permukaan meja! Tangan kiri Pak Marsan menekan punggungku sedangkan tangan kanannya meremas-remas buah pantatku dengan gemasnya. Tanpa kusadari tubuhku ikut bergoyang seolah-olah menyambut dorongan batang kemaluan Pak Marsan. Pantatku bergoyang memutar mengimbangi tusukan-tusukan batang kemaluan Pak Marsan yang menghunjam dalam-dalam.

Suara benturan pantatku dengan tulang kemaluan Pak Marsan yang terdengar di sela-sela suara gemuruh hujan menambah gairahku kian berkobar. Apalagi bau keringat Pak Marsan semakin tajam tercium hidungku. Oh.. Inikah dunia.. Tanpa sadar mulutku bergumam dan menceracau liar.

"Ouhmm terushh.. Terushh.. Yang kerashh.." Aku menceracau dan menggoyang pantatku kian liar saat aku merasakan detik-detik menuju puncak.
"Putar Bu.. Putarrhh" kudengar pula Pak Marsan menggeram sambil meremas pantatku kian keras.

Batang kemaluannya semakin keras menyodok liang kemaluanku yang sudah kian licin. Aku merasakan batang kemaluan Pak Marsan mulai berdenyut-denyut dalam jepitan liang kemaluanku. Aku sendiri merasa semakin dekat mencapai orgasmeku yang kedua. Tubuhku serasa melayang. Mataku membeliak menahan nikmat yang amat sangat. Tubuh kami terus bergoyang dan beradu, sementara gaunku sudah basah oleh keringatku sendiri. Pak Marsan semakin keras dan liar menghunjamkan batang kemaluannya yang terjepit erat liang kemaluanku. Lalu tiba-tiba tubuhnya mengejat-ngejat dan mulutnya menggeram keras.

"Arghh.. Terushh buu.. Goyangghh.. Arghh.."

Batang kemaluannya yang terjepit erat dalam liang kemaluanku berdenyut kencang dan akhirnya aku merasakan adanya semprotan hangat di dalam tubuhku.. Serr.. Serr.. Serr.. Beberapa kali air mani Pak Marsan menyirami rahimku seolah menjadi pengobat dahaga liarku. Tubuhnya kian berkejat kejat liar dan tangannya semakin keras mencengkeram pantatku hingga aku merasa agak sakit dibuatnya. Tapi aku tak peduli. Tubuhku pun seolah terkena aliran listrik yang dahsyat dan pantatku bergerak liar menyongsong hunjaman batang kemaluan Pak Marsan yang masih menyemprotkan sisa-sisa airmaninya.

"Ouch.. Akhh.. Terushh.. Pak Mar.. Sanhh.." tanpa malu atau sungkan aku sudah meminta Pak Marsan untuk lebih kuat menggoyang pantatnya untuk menuntaskan dahagaku.

Akhirnya aku benar-benar terkapar. Tulang-belulangku serasa terlepas semua. Benar-benar lemas aku dibuat oleh Pak Marsan. Kami terdiam beberapa saat menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja kami peroleh. Batang kemaluan Pak Marsan kurasakan mulai mengkerut dalam jepitan liang kemaluanku. Perlahan namun pasti akhirnya batang kemaluan itu terdorong keluar dan terkulai menempel di depan bibir kemaluanku yang basah oleh cairan kami berdua. Gila banyak sekali Pak Marsan mengeluarkan air maninya! Aku tahu itu karena banyaknya tumpahan sisa-sisa air mani dari lubang kemaluanku yang menetes ke lantai ruang makan.

"Ibu benar-benar hebat.. Saya jadi sayang ibu.." bisik Pak Marsan di telingaku. Aku hanya diam antara menyesal telah melakukan kesalahan lagi terhadap suamiku dan terpuaskan hasrat liarku.
"Su.. Sudah Pak.. Nanti Mbok Sarmi bangun" kulepas tangan Pak Marsan yang masih memelukku.

Aku berusaha melepaskan diri dari jepitan tubuh Pak Marsan yang kekar. Lalu aku bergegas ke kamar mandi dan membersihkan tubuhku. Sekali lagi aku mandi di malam yang dingin itu.

Aku keluar dari kamar mandi dan baru kusadari betapa kacaunya ruang makanku! Meja makanku sudah bergeser tak karuan sementara kulihat celana dalam nylonku terlempar ke sudut ruangan dekat kulkas. Pak Marsan masih membetulkan celana dinasnya.

"Bu saya.. Boleh numpang mandi Bu.."
"Silahkan Pak.. Handuknya ada di dalam"

Aku mengambil kain pel dan membersihkan cairan sisa-sisa persenggamaanku dengan Pak Marsan yang berceceran di lantai. Sementara itu Pak Marsan mandi di kamar mandi yang baru saja kupakai.


Permainan Kedua

Aku masih mengepel cairan sisa-sisa 'perjuangan' kami tadi yang masih menempel di lantai. Tanpa kusadari tiba-tiba Pak Marsan yang hanya mengenakan handuk memelukku lagi dari belakang. Gila! Orang ini benar-benar bernafsu kuda!! Tubuhku diangkatnya dan hendak dibawa masuk ke kamar mandi.

"Jangan di situ Pak.." bisikku. Aku tidak mau bersetubuh di lantai kamar mandi yang dingin!! Bisa-bisa masuk angin nanti!!
"Ke kamar depan aja Pak.." Aku tahu tak mungkin aku menolak keinginan Pak Marsan! Apalagi aku juga menyukainya.

Akhirnya tubuhku dipondong ke kamar depan yang memang khusus untuk tamu bila ada yang menginap. Kamar tamuku fasilitasnya komplit sesuai standar rumah berkelas. Kamar tamuku dilengkapi tempat tidur spring bed, dan kamar mandi di dalam, serta AC!

Setelah menutup pintu kamar dengan kakinya, Pak Marsan menurunkan tubuhku di lantai dan bibirnya mulai mencari-cari bibirku. Aku diam saja saat bibirnya menyedot-nyedot bibirku. Kumisnya yang tebal terasa geli mengais-ngais hidungku. Aku semakin geli saat lidahnya berusaha menyusup ke dalam mulutku dan mengais-ngais di dalamnya. Tanpa sadar lidahku ikut menyambut lidah Pak Marsan yang mendesak-desak dalam mulutku.

Akhirnya kami saling pagut dengan liar dan menggelora. Aku sudah tak peduli kalai Pak Marsan itu adalah anak buahku. Yang kutahu adalah nafsuku mulai bangkit lagi. Apalagi tangan Pak Marsan mulai menyingkap gaun baby dollku ke atas dan melepaskannya melalui kepalaku hingga aku telanjang bulat di depannya! Gila aku telah telanjang bulat di depan anak buahku sendiri!! Aku memang belum sempat memakai celana dalam dan BH setelah mandi tadi. Lalu dengan sekali tarik Pak Marsan melepas handuk yang melilit di pinggangnya hingga ia juga telanjang bulat di depanku!
Read more »»  

Cerita Dewasa Sebuah Kisah Ketika Digoda Calon Adik Ipar Seksi

Cerita Dewasa Sebuah Kisah Ketika Digoda Calon Adik Ipar Seksi - Saya merupakan laki-laki yang sangat bahagia. Pacar saya cantik dan kami telah berpacaran selama lebih dari setahun, jadi kami memutuskan untuk menikah. Hanya ada satu hal kecil mengganggu saya, yaitu adiknya yang lebih muda dan lebih cantik. Calon adik ipar saya itu berusia dua puluh dua, sering mengenakan rok mini yang sangat ketat dan selalu tanpa bra.


Dia secara teratur dan sering membungkuk ketika di depan saya, dan saya selalu mendapatkan pemandangan yang menyenangkan dari bagian-bagian pribadinya. Sepertinya disengaja, sebab dia tidak pernah melakukan itu ketika dia berada di dekat orang lain.

Suatu hari saya berkunjung ke rumah pacar saya. Saat itu yang berada di rumah hanya calon adik ipar saya, dan kami pun berbincang-bincang hanya berdua saja di rumah. Adik ipar saya seketika membisikkan kepada saya bahwa ia memiliki perasaan dan keinginan yang tidak bisa diatasinya.

Dia mengatakan kepada saya bahwa ia ingin bercinta dengan saya dan sekali saja sebelum saya menikah dengan kakaknya. Yah, saya benar-benar kaget, dan tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Dia berkata, “Aku akan ke atas ke kamarku, dan jika kamu mau ikutilah aku”.

Aku tertegun dan terpaku saat melihat dia pergi menaiki tangga. Ketika sampai di puncak tangga ia melepas celana dalamnya dan melemparkannya ke arahku. Aku berdiri di sana sejenak, lalu berbalik dan langsung berlari menuju ke pintu depan. Saya membuka pintu depan, dan langsung menuju ke mobil saya.

Tapi suatu kejutan terjadi, seluruh keluarga pacar saya termasuk pacar saya telah berdiri di luar, dan semua bertepuk tangan! Dengan tersenyum haru calon bapak mertua saya memeluk dan berkata, “Kami sangat senang bahwa kamu telah lulus ujian kecil kami, kamu ternyata laki-laki yang baik dan tidak mudah tergoda oleh bujuk rayu wanita.”
Read more »»  

Photo Hot Gadis Abg sexy Bugil Narsis Di Kamar


Photo Hot Gadis Abg sexy Bugil Narsis Di Kamar gue ga tau berapa kira kira umur cewek cakep ini, tapi gue tetap menganggap dia adalah seorang ABG, karena gue merasa lebih tua dari cewek di foto ini. hehe… sok tua amat yak…hahahha gpp deh…. yang penting selera muda, dan selera anak ABG yang cakep cakep 
Photo Hot Gadis Abg sexy Bugil Narsis Di Kamar. Silahkan ente menikmati wajah lugu ABG dibawah ini, ntah ini adalah ABG ndesa atau ABG kota, namun cukup membuat gue sendiri horni, dan ingin melihat keseluruhan tubuhnya yang terlihat menggoda. Foto cewek ini membuat gue tertarik untuk berimajinasi tentang keindahan tubuhnya, dan menikmati Toketnya yang imut, dan legitnya miss Vaginanya. wekekkek (cuma imajinasi semata) tapi gpp deh…. karena foto dibawah ini memang membuatku horny.









Read more »»  

Foto Hot : Toket Mulus ABG Seksi

Toket Mulus ABG Seksi - Cowok mana yang tahan kalau melihatnya, Toket Mulus ABG 5eksi, bikin mata kunang - kunang, badan merinding, gemetar & panas dalam !!!







Read more »»  

Toket ABG Hot

Read more »»  

Cerita Seks | Aku terlelap dalam permainan SeksMu


Cerita Seks | Aku terlelap dalam permainan SeksMu - Juragan ABG - Namaku Nina, saat ini aku sedang kuliah semester akhir di salah satu perguruan tinggi swasta di kota Bandung. Saat kejadian itu menimpaku, aku sedang duduk di semester dua. Sebenarnya seluruh keluargaku tinggal di kota Jakarta, dan mereka agak keberatan jika aku harus kuliah di luar kota, tapi saat itu aku sudah bertekad untuk belajar hidup mandiri hingga akhirnya mereka mengijinkan aku untuk melanjutkan studi di kota tersebut.

Di Bandung aku tinggal di sebuah kos putri yang letaknya tidak begitu jauh dari kampusku. Aku tinggal bersama seorang temanku yang aku kenal di kampus. Namanya Lenny, dia gadis berdarah Sunda asli. Padahal dia bisa saja tinggal di rumahnya yang juga berada di kota Bandung, tapi menurutnya dia ingin lebih bisa berkonsentrasi dengan kuliahnya, jadi dia memutuskan untuk tinggal di kos bersamaku.

Lenny adalah gadis yang sangat pintar dan juga sopan, begitu sopannya sampai-sampai dia tidak pernah mengenakan pakaian yang seksi atau sedikit terbuka saat bepergian atau berangkat kuliah, padahal menurutku wajah Lenny sangat cantik, rambutnya panjang dan hitam dengan kulit tubuh yang putih mulus, layaknya gadis gadis Sunda pada umumnya, sementara postur tubuhnya juga sangat bagus dan proporsional, pinggangnya ramping didukung oleh kedua belah kakinya yang jenjang, apalagi Lenny juga memiliki payudara yang besar, mungkin dua kali lebih besar daripada buah dadaku. Pokoknya, jika saja Lenny mau berdandan dan sedikit mengubah penampilannya, dia bisa menjadi salah satu gadis tercantik di tempat kuliahku.

Untuk memenuhi kebutuhanku agar tidak terlalu mengandalkan uang kiriman dari orang tuaku, aku memutuskan untuk kuliah sambil bekerja paruh waktu di salah satu club billiard yang cukup besar dan eksklusif di kota Bandung. Aku bekerja menjadi salah seorang penjaga meja, sekaligus merangkap pramusaji di club tersebut, kadang kadang aku merasa sangat lelah dan letih, apalagi jika aku harus terpaksa pulang larut malam dari tempat kerja. Tapi tidak apalah, yang penting aku bisa mempunyai cukup uang dan dapat memenuhi kebutuhanku sendiri tanpa harus mengandalkan kiriman uang dari orang tuaku, lagipula aku sudah bertekad untuk belajar hidup mandiri.

Singkat cerita, hari itu aku sedang bingung, karena besok adalah hari terakhir waktu pembayaran uang semester, padahal kiriman dari orang tua belum juga sampai ke rekeningku, dan saat gajianku masih seminggu lagi, sementara uang tabunganku sudah habis untuk keperluan dan biaya hidupku sehari-hari hingga sore itu aku benar benar pusing memikirkannya. Akhirnya, kuberanikan diri untuk meminjam uang ke club tempat aku bekerja, tapi perusahaan tidak dapat mengabulkan permohonanku dengan alasan saat itu tidak ada dana yang tersedia karena seluruh uang yang ada sudah disetorkan ke pemiliknya.

Malam itu, dengan perasaan sedih dan bingung, aku berkemas untuk pulang kembali ke kosku. Saat itu jam kerjaku memang telah selesai. Aku berjalan lunglai dari ruangan karyawan, bingung memikirkan nasibku besok, saat kulihat Lenny sudah menungguku di ruang tunggu

"Gimana Nin? Dapat pinjaman uangnya?" tanya Lenny.
"Nggak bisa Len.. Nggak apa-apa deh, besok gua minta keringanan aja dari kampus" ujarku dengan nada lemas.
"Elu sendiri, dari mana.? Tumben mampir ke sini?" tambahku sambil melihat ke arah jam tanganku, saat itu sudah hampir jam sepuluh malam, tidak biasanya Lenny berani keluar malam-malam, pikirku heran.
"Gua abis dari mall di depan, ngecek ATM, siapa tahu kiriman gua udah sampai, buat nalangin bayaran elu, tapi ternyata belum sampai.." ujar Lenny dengan nada menyesal.
"Thanks banget untuk usaha lu Len." ujarku sambil mengajaknya pulang.

Kami berdua berjalan melewati ruangan billiard. Saat itu di sana masih ada empat orang tamu yang sedang bermain ditemani oleh manajerku, mereka adalah teman-teman dari pemilik club tersebut, jadi walaupun club tersebut sudah tutup, mereka tetap dapat bebas bermain. Aku sempat berpamitan dengan mereka sebelum aku kembali berjalan menuju pintu keluar saat tiba-tiba salah seorang dari mereka memanggilku..

"Nin.., Temenin kita main dong..!" serunya.
"Kita taruhan. Berani nggak?" tambah temannya sambil melambaikan tangannya ke arahku.

Aku tertegun sejenak sambil menatap bengong ke arah mereka. Rupanya mereka sedang berjudi, dan mereka mengajakku untuk bergabung. Wah, boleh juga nih. Siapa tahu menang.., pikirku.

"Taruhannya apa? Saya lagi tidak bawa uang banyak..!" seruku, sementara kulihat Pak Dicky manajerku, berjalan menghampiriku.
"Gampang.., kalau kamu bisa menang, satu game kami bayar lima ratus ribu, tapi kalau kamu kalah, nggak perlu bayar, kamu cuma harus buka baju aja, kita main sepuluh game.. Setuju?" seru salah seorang dari mereka.

Aku terkesiap mendengar tantangannya, kulirik Lenny yang saat itu sudah berada di depan pintu keluar, dia tampak menggelengkan kepalanya, sambil memberi tanda kepadaku, agar aku cepat-cepat meninggalkan club tersebut.

"Brengsek! Nggak mau..!" ujarku sambil membalikkan tubuhku. Bisa-bisa aku telanjang kalau dalam sepuluh game itu aku kalah terus, pikirku dengan sebal. Tapi tiba-tiba langkahku terhenti saat tangan manajerku menahan pundakku.
"Terima aja Nin, kamu kan lagi butuh uang, lagipula mereka nggak begitu jago kok..!" ujar manajerku berusaha membujuk.
"Tapi Pak..!" jawabku dengan nada bingung, sebenarnya aku mulai tertarik untuk memenuhi tantangan mereka, dengan harapan aku bisa memenangkan seluruh game, lagipula aku benar benar membutuhkan uang tersebut.
"Sudahlah.! Kalau kamu bersedia nanti saya kasih tambahan uang, lagipula nggak enak menolak tamu-tamu bos.." ujarnya sambil terus membujukku.
"Oke.. Tapi kalau saya kalah terus gimana?" tanyaku kepada mereka.
"Tenang aja, kamu hanya lepas baju aja kok! Kami janji nggak akan berbuat macam macam..!" seru orang yang berada paling dekat denganku.
"Baik.. Tapi janji.. Tidak akan macam macam!" jawabku memastikan perkataan mereka, sementara Lenny langsung berjalan menghampiriku.
"Lu udah gila apa Nin..! Gua ngga setuju!" serunya dengan nada marah.
"Tenang aja Len, elu duduk aja di sana, nungguin gua..! Oke?" ujarku sambil menunjuk ke arah sofa yang berada di pojok ruangan.
"Tapi Nin?" ujar Lenny dengan wajah ketakutan.
"Udah, nggak apa-apa, elu nggak perlu takut.." sanggahku sambil tersenyum menenangkan hatinya, akhirnya Lenny pun berjalan dan duduk di sofa tersebut.

Sudah lima game berjalan, aku menang dua kali dan kalah tiga kali, membuat aku harus menanggalkan jaket, blouse dan celana panjang yang kukenakan hingga saat itu hanya tersisa bra dan celana dalam saja yang masih melekat di tubuhku. Jangan sampai kalah lagi, ujarku dalam hati, dua kali lagi aku kalah, maka aku akan benar-benar bugil. Pikiranku mulai panik, sementara di pojok ruangan, Lenny sudah tampak mulai resah melihat keadaanku.

Tapi naas. Udara dingin dari AC di ruangan tersebut membuat aku sulit untuk berkonsentrasi sehingga aku kembali kalah pada game keenam, membuat mereka langsung bersorak riuh, memintaku untuk segera menanggalkan bra yang kukenakan. Aku sudah hampir menangis saat itu, tapi mereka terus memaksaku, maka dengan perasaan berat dan malu, akhirnya kulepaskan juga bra yang melekat di tubuhku, membuat buah dadaku langsung mencuat dan terbuka di hadapan mata mereka yang tampak melotot saat memandang tubuh telanjangku.

"Sudah.. Sudah, kita berhenti saja, saya menyerah!" seruku memelas sambil berusaha menutupi tubuh bagian atasku, saat itu aku sudah merasa sangat malu dan tidak lagi berminat untuk meneruskan taruhan itu.
"Nggak bisa..! Perjanjiannya kan sampai kamu telanjang, baru permainannya selesai..!" protes lawan mainku, akhirnya aku hanya bisa menuruti kemauannya.
"Buka.. Buka..!" sorak mereka saat pada game berikutnya aku kembali kalah dan harus melepas celana dalamku.
"Sudah.. Kita batalkan saja taruhannya..!" jeritku sambil meraih pakaianku dan berlari menjauhi mereka, tapi salah seorang dari mereka dengan sigap menubrukku dari belakang, membuatku terhempas di atas meja billiard dengan posisi menelungkup dan laki-laki itu menindihku dari atas.
"Lepaskan..!" teriakku kaget sambil meronta dengan sekuat tenaga, tapi laki laki itu terus menindihku dengan kuat, membuat aku benar benar tidak bisa bergerak sama sekali, akhirnya aku terkulai lemah tak berdaya sambil terus menangis.
"Pak dicky..! Tolong saya Pak..!" jeritku sambil menyapukan pandangan mencari manajerku.

Betapa terkejutnya aku saat kulihat Pak Dicky sedang mendekap tubuh Lenny sambil tangannya berusaha melucuti pakaian yang melekat di tubuhnya dibantu oleh tiga orang temannya. Bersamaan dengan itu kurasakan sesuatu mendesak masuk ke dalam liang kemaluanku. Rupanya saat itu laki-laki yang berada di atas tubuhku, sudah akan memperkosaku. Dia menyelipkan batang penisnya dari sela-sela celana dalam yang kukenakan dan terus menekannya dengan keras, membuat batang kemaluannya makin terhunjam masuk melewati bibir vaginaku.

"Jangan.. Ouh..!!" jeritku sambil berusaha menahan pahanya dengan kedua tanganku, tapi batang kemaluannya terus melesak masuk, sehingga akhirnya benar-benar terbenam seluruhnya di dalam liang vaginaku.
"Jangan keluar di dalam, Pak..!" gumamku pelan sambil menahan tubuhku yang berguncang saat laki-laki itu mulai memompaku.
"Oke.. Uh.. Ssh.. Kamu cantik Nina..!" ceracau laki laki itu saat mulai bergerak di dalam tubuhku.
"Ouh.. Hh..!" desahku lirih.

Aku memejamkan mataku, merasakan getaran yang mulai menjalari seluruh tubuhku, saat pemerkosaku menghentakkan tubuhnya dengan makin cepat, membuat aku mulai terangsang saat itu, dan tanpa sadar aku pun ikut menggerakkan pinggulku, berusaha mengimbangi gerakannya.

Aku memang sudah sering melakukan hubungan badan dengan pacarku sejak aku masih duduk di bangku SMU, malah kegadisanku telah terenggut oleh pacarku saat aku masih di kelas satu SMA, dan sejak saat itu kami rutin melakukan aktifitas seks, sampai akhirnya aku pergi melanjutkan studi di Bandung, dan sekarang aku kembali merasakan kenikmatan itu setelah selama satu tahun aku tidak pernah lagi bersetubuh.

"Ouh.. Shh. Ah." desahku sambil terus menggoyangkan pinggulku.

Sementara di pojok ruangan, kulihat Lenny sedang berjuang dengan sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari keempat orang yang sedang menggumulinya. Saat itu keadaan Lenny benar benar sudah sangat berantakan, kemeja lengan panjang yang di kenakannya sudah terbuka lebar dan hampir lepas dari tubuhnya, sementara bra yang dikenakannya sudah tampak setengah terbuka hingga membuat satu payudaranya menyembul keluar.

"Jangan.. Jangan.. Lepaskan.. Tolong..!" jeritnya keras sambil berusaha meronta dan melawan dengan gigih saat seseorang dari mereka mulai mengangkat rok panjang yang dikenakan oleh Lenny.
"Jangan..! Toloong..!" jerit Lenny makin keras sambil menendang-nendangkan kedua belah kakinya saat mereka mulai menggerayangi tubuh bagian bawahnya dengan buas.
"Hentikann..! Hentikan.!" teriak Lenny putus asa sambil menangis sejadi-jadinya sementara tangannya berusaha menggapai ke arah bawah, mencoba menahan tangan-tangan yang sedang melolosi celana dalamnya, tapi gerakannya tertahan oleh tangan Pak Dicky yang saat itu terus mendekap tubuh Lenny dari belakang.

Manajerku itu terus memaksanya untuk tetap berada di dalam pangkuannya, sambil sesekali meremas dan mempermainkan puting buah dada Lenny. Beberapa saat kemudian, dua orang dari mereka mengangkat tubuh Lenny sambil merenggangkan kedua belah kakinya, sementara Pak Dicky tetap mendekap tubuh Lenny sambil mulai mengarahkan batang kemaluannya ke sela-sela bibir kemaluan temanku itu.

Saat itu keadaan Lenny sungguh sangat mengenaskan, pakaian bagian atasnya sudah terbuka dengan lebar, sementara roknya pun telah tersingkap sampai sebatas perutnya, dan aku dapat melihat jelas, saat tubuh Lenny tampak menggeliat hebat ketika kedua orang yang mengangkat tubuhnya itu mulai menurunkannya dengan perlahan, membuat batang kemaluan Pak Dicky melesak masuk ke dalam liang vaginanya.

"Ough..! Jangaan..!" jerit Lenny parau sambil meringis kesakitan ketika vaginanya mulai dijejali oleh kemaluan Pak Dicky.

Perlahan, kulihat batang kemaluan itu terus melesak masuk sampai akhirnya lenyap dan terbenam seluruhnya di dalam liang rahim Lenny, saat itu tubuh Lenny benar-benar telah menyatu dengan tubuh Pak Dicky. Dan Lenny tampak mengerang kesakitan sambil menggeliatkan tubuhnya.

"Arghh.. Sakitt.., perihh, lepaskan itu dari tubuhku..!" jerit Lenny dengan nafas yang tersengal-sengal, dia masih berusaha meronta, ketika Pak Dicky mulai bergerak di dalam tubuhnya, membuat Lenny makin menjerit-jerit kesakitan, sampai akhirnya tubuhnya terkulai lemas tak sadarkan diri di dalam dekapan Pak Dicky.

Pak Dicky masih terus memompa tubuh Lenny yang pingsan itu dengan kasar, begitu kasarnya hingga membuat tubuh temanku itu ikut berguncang dengan hebat. Buah dadanya yang besar tampak menggeletar dan terlempar kesana kemari saat tubuhnya bergerak naik turun, sementara saat itu aku pun masih terus digarap oleh laki-laki yang sedang memperkosaku, sampai akhirnya tubuhku menegang dengan keras.

"Ohh..!" aku mendesah keras saat telah mencapai orgasme, seluruh sumsum di tulangku serasa ditarik keluar ketika aku benar-benar telah mencapai puncak kenikmatan, tapi tiba-tiba aku menjadi panik luar biasa saat kurasakan penis laki-laki itu berdenyut keras di dalam liang rahimku.

"Jangan.. Jangan di dalam..! Lepaskan.. Bajingan..!" jeritku putus asa saat kurasakan cairan hangat membanjiri rongga kemaluanku. Laki-laki itu telah menyemburkan cairan spermanya di dalam liang rahimku.

Sesaat kemudian posisinya sudah digantikan oleh temannya, dan aku kembali diperkosa. Sementara di pojok ruangan, Lenny pun masih terus digarap oleh mereka, kulihat darah keperawanannya meleleh keluar dari sela-sela bibir vaginanya, bercampur dengan cairan sperma, saat seorang dari mereka mulai kembali melesakkan liang vagina Lenny dengan batang penisnya.

Malam itu, Aku dan Lenny menjadi piala bergilir, tubuh kami berdua dikerjai dan diperkosa habis-habisan oleh mereka. Siksaan itu baru berakhir saat waktu sudah menunjukkan jam empat subuh. Kulihat di depanku tertumpuk sejumlah uang pecahan seratus ribu. Kuraih uang tersebut sambil berusaha bangkit dan mengenakan seluruh pakaianku, setelah itu aku berjalan mendekati tubuh Lenny yang masih meringkuk di sudut ruangan. Saat itu dia sudah siuman dari pingsannya, dia mengerang kesakitan sambil menangis meratapi kegadisannya yang telah terenggut paksa pada malam itu. Kurangkul tubuhnya dan membantunya berjalan pulang.

Sumber
Read more »»  

Cerita Seks | Ngesex Dalam Distro


yang satu ini bisa dibilang lucu dan menggemaskan. Gimana tidak, distro tempatnya jualan baju saja bisa dibuat ajang seks. Benar-benar gila kan ? simak aja cerita dewasa berikut ini. Sore itu aku dapet reminder dari bb tercinta kalo keponakan tersayang ultah, bingung deh mau kasih kado apa. Lalu aku putusin jalan pake mio pink tercinta. Jogja sekarang sering macet, apalagi kalo abis ujan. Jadi males keluarin mobil, belum lagi kalo kotor. Jadinya santai aja naik motor bisa cepet kemana-mana.

Waktu ganti baju di depan lemari, pikiran nana jadi iseng. “Mmmmmm…. , sambil eksib g ya….”, gitu pikir nana. Akhirnya nana putuskan buat melakukan hoby nana ini

Langkah pertama pilih baju. He.he.he…… mmmm….. berhubung dingin g berani jalan kalo G pake CD or BRA… bisa masuk angin nanti…., Akhirnya nana pilih bra item sama cd item. Buat atasanya nana pake langsung jaket dari wool. Hi.hi.hi jadi kan kayak lubang2 gitu. apalagi kalo dilihat dari dekat. Apalagi warnanya pink mendekati putih jadilah bra nana membayang disana. Buat bawahanya pake rok jeans. G terlalu mini c, tapi dah diatas lutut.

Di jalan nana melirik spion motor kok ngerasa ada yang ngikutin nana. Nana cuek aja…. dia kayaknya mahasiswa gitu dari dandananya. Setiap lampu merah dia pasti berhenti di samping nana, tapi rada ke belakang. Kulirik… wah… nampaknya dia terpancing liat tetek nana. “Kena lo…. !”, pikir nana. Sengaja nana tengok dia dan senyum genit sambil nunduk liat tetek nana sendiri yang sengaja nana busungkan. Dasar cowok, dimana-mana “dari mata turun ke tetek”.

Akhirnya setelah puas puter-puter nana mampir ke distro pakaian ABG punya temen nana. Setelah parkir motor nana masuk. Ternyata temen nana lagi ke badung beli stock distro. Yang tunggu toko adiknya… Mmmmm…. lumayan cakep nie cowok, nana kerjain ah…

“Eh adit… Herma(nama temenku) mana ?”, tanyaku. “Lagi ke bandung c.. cari dagangan, Cc cari apa ?”, tanya dia balik. Nampaknya dia belum sadar kalo aku pake baju seksi. Akupun mendekati meja kasir dan membungkuk bertumpu pada tanganku yang dimeja. “Gini… ponakanku ultah aku mau cari baju cewek yang abg gitu, seksi, girly gitu deh….”, senyumku menggoda. Nampaknya adit mulai salah tingkah disuguhi tetek yang menantang untuk diremas. “Kenapa dit kok tegang gitu…”, tanyaku menambah dia salah tingkah. “gggg…. g papa c…”, pilih aja nanti adit kasih diskon.

Akupun menuju display baju buat pilih-pilih. Setelah ada yang cocok aku bilang ke adit yang sedari tadi mengamati lekuk tubuhku. Aku berniat mencoba baju ini karena postur keponakanku g jauh dari aku.

“Dit aku boleh coba bajunya g ?”, tanyaku yang membuat adit kaget. “Bbbboleh ci….”, jawabnya. Akupun menuju kamar pas yang cuma merupakan ujung ruangan yang ada tirainya.

Sengaja aku g tutp tirai dengan sempurna, jadi dari meja kasir adit bisa menatapku. bahkan tak hanya dari belakang, badanku dari depan pun nampak dari pantulan cermin. Aku cuek saja….

“Dit……..”, aku memangilnya. “Mmmmmm… tolong lepasin kancing Bra ku dunk yang belakang”, godaku. Diapun menuju kamar pas dan langsung menyetuh punggungku. “Kok dilepas c ? “, tanyanya polos. ” Aku mau coba bajunya biar keliatan natural”, Jawabku. Ketika telapak tanganya menyentuh punggungku terasa dingin banget. Takut, terangsang, horny, g tau mesti ngapain… mungkin itu yang dipikiranya.

Adit g beranjak pergi meskipun dah selesai membantuku melepas bra. Akupun sengaja g menyuruhnya pergi. Aku mencopot braku dan sengaja meremas-remas kecil tetekku. Ahhhhh…. aku sedikit mendesah. Kulirik adit nampak sangat ngos.ngosan…. nafasnya memburu penuh nafsu. Mungkin dia sudah pengen ngent*tin aku tapi takut.

Akupun memakai pakaian yang tadi kupilih agak sempit… adit pun membantuku memakainya… sesekali mecuri-curi meraba tetekku…. mmmmm…. akupun sedikit bereaksi membuatnya tambah horny…

“Cc g malu ?”, tanyanya polos. “G lah… adit ini bukan siapa2, lagian kan dah sering liat kakak pake bikini waktu renang ditempatmu kan”, jawabku santai.

“Dit kamu horny ya ?”, tanyaku polos dengan muka menggoda. “Iiiya nih….”, jawabnya…

“Ya dah kalo mau ngocok…., g papa… kok aku “,kataku…

Adit pun mengelurakan tongkolnya yang lumayan.. dan mulai mengocok tongkolnya. Akupun mulai merasa horny dan meraba tetek dan memiawku sendiri. Ahhhh…. gila…. tongkolnya kuat bgt kayaknya. Akupun merasa kasian melihatnya g keluar-keluar. Akupun menaikkan baju yang aku pakai sampai tetekku keliatan. Dia mulai tambah bergairah. Matanya mengisyaratkan minta ijin untuk meremas tetekku. Akupun mengangguk saja.

Dia mulai meremas kasar tetetkku… Akupun bersandar sambil meraba memiawku sendiri dan. aaaaaaaaaaaacccccccchhhhhh………………. aaaaaaaaaaaacccccccchhhhhh………………. aaaaaaaaaaaacccccccchhhhhh……………… akupun keluar….. g lama kemudian tongkol adit menyemprotkan cairan dan mengenai kakiku.

Dia tersungkur lemas. “Makasih c…..”, ucapnya terbata. Akupun hanya bisa menggangguk. Kami baru sadar ternyata pintu distro g terkunci. Coba kalo ada orang masuk kan gawat. Setelah bayar akupun pulang. Aku sengaja meninggalkan CD ku yang basah cairanku untuknya. Dan berjanji suatu saat adit boleh liat memiawku

Sumber
Read more »»